Pemerintahan Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan meluncurkan gelombang sanksi ekonomi baru yang menargetkan jaringan keuangan rahasia negara tersebut. Sekitar 35 entitas dan individu dikenai sanksi karena diduga mengoperasikan sistem “shadow banking” yang digunakan untuk menghindari pembatasan internasional.
Pemerintah AS meyakini jaringan ini menjadi jalur utama bagi Iran untuk memperoleh pendapatan besar yang kemudian dialokasikan bagi kepentingan militer dan aktivitas regional. Langkah ini diambil setelah upaya blokade militer di Selat Hormuz dinilai belum memberikan dampak maksimal terhadap perekonomian Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menjelaskan bahwa sistem perbankan bayangan tersebut bergantung pada perusahaan swasta yang disebut “rahbar” untuk memfasilitasi transaksi ilegal melalui perusahaan cangkang di luar negeri. Aktivitas ini kerap dilakukan atas nama Korps Garda Revolusi Iran dan perusahaan energi nasional Iran.
Selain itu, Washington juga mengeluarkan peringatan keras kepada lembaga keuangan global agar tidak terlibat dalam jaringan tersebut, dengan ancaman sanksi hukum dan ekonomi yang berat bagi pihak yang melanggar. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi lanjutan setelah langkah militer dianggap belum cukup efektif menekan Teheran.
Sejumlah pejabat, termasuk Marco Rubio, masih mendorong agar blokade di Selat Hormuz tetap dipertahankan, namun pemerintah AS kini memperluas tekanan melalui jalur finansial.
Tujuannya adalah membatasi kemampuan Iran dalam menyalurkan minyak dan menyimpan cadangan energi, sehingga memicu tekanan ekonomi yang lebih besar dan memaksa perubahan kebijakan.
Di sisi lain, strategi tekanan maksimal ini memicu perdebatan luas di tingkat global. Meski Trump mengklaim Iran berada dalam kondisi melemah, banyak analis meragukan efektivitas sanksi dalam mengubah sikap politik negara tersebut secara signifikan.
Meski demikian, dampak kebijakan ini juga dirasakan secara internasional, termasuk lonjakan harga energi dan penurunan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik ekonomi dan geopolitik antara AS dan Iran tidak hanya berdampak bilateral, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Alexander Jason – Redaksi

