Government National World

AS–Indonesia Sepakati Kemitraan Pertahanan Utama, Fokus Stabilitas Indo-Pasifik

Menteri Urusan Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyambut Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, di Pentagon dalam pertemuan yang menandai pengumuman Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership) antara kedua negara.

Kemitraan tersebut disebut akan menjadi kerangka strategis untuk memperkuat kerja sama pertahanan bilateral, khususnya dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.

Hegseth menilai kunjungan tersebut mencerminkan hubungan keamanan yang terus berkembang antara Amerika Serikat dan Indonesia.

“Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya hubungan keamanan yang terus berkembang — serta aktif dan bertumbuh — antara Departemen Urusan Perang dan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kedua negara saat ini melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahunnya. Menurut Hegseth, kemitraan baru ini mencerminkan kekuatan sekaligus potensi hubungan bilateral di sektor pertahanan.

“Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita … memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan,” katanya.

Sementara itu, Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mengembangkan kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat.

“Hari ini, kami hadir sebagai delegasi Indonesia, dengan semangat yang sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, yang harus berkelanjutan bagi generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kerja sama tersebut dibangun atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan bagi kepentingan nasional masing-masing. Dalam kesepakatan tersebut, terdapat tiga pilar utama yang menjadi dasar kerja sama, yakni penguatan organisasi militer dan kapasitas, pelatihan serta pendidikan militer profesional, dan peningkatan kerja sama operasional.

Kedua negara juga akan menjajaki berbagai inisiatif baru, termasuk pengembangan kemampuan asimetris canggih, teknologi pertahanan generasi berikutnya di sektor maritim dan bawah laut, hingga sistem otonom.

Selain itu, kerja sama juga mencakup dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul guna meningkatkan kesiapan operasional militer.

Pernyataan bersama turut menegaskan rencana peningkatan pelatihan bersama pasukan khusus, yang diharapkan semakin mempererat hubungan antara militer kedua negara. Dalam kesempatan tersebut, Hegseth juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Indonesia dalam proses pemulangan jenazah prajurit Amerika Serikat.

“Saya menghargai dukungan berkelanjutan Anda dalam membantu Amerika Serikat menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami yang bertempur bersama Indonesia selama Perang Dunia II,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kemitraan ini akan memungkinkan Defense POW/MIA Accounting Agency untuk melanjutkan upaya pemulihan jenazah di Indonesia.

Baik Hegseth maupun Sjafrie menggambarkan kerja sama ini sebagai titik awal bagi babak baru hubungan kedua negara.

“Jadi, ini adalah awal dari babak baru dan misi bersama bagi negara-negara besar kita,” ujar Hegseth.

Amerika Serikat dan Indonesia sendiri telah menjalin hubungan diplomatik selama lebih dari 75 tahun, sejak dimulainya hubungan resmi pada 1949, tidak lama setelah Indonesia meraih kemerdekaan.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...