National

Bahlil Ungkap Alasan BBM Nonsubsidi Naik

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi merupakan konsekuensi mekanisme pasar yang diatur pemerintah. Kebijakan ini berlaku untuk jenis BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang tidak masuk dalam skema subsidi negara.

Bahlil mengatakan, alasan Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi lantaran mengikuti harga pasar pasar. Berdasarkan aturan, pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar. Menurutnya, kenaikan harga BBM tersebut juga hanya berdampak pada masyarakat mampu. Sebab, jenis BBM nonsubsidi yang naik umumnya dikonsumsi orang kaya.

“(Pertamax) Turbo itu kan buat orang kaya, orang-orang mampu semua, RON 98. Kemudia solar yang CN 51 (Dexlite) itu kan untuk orang mampu,” imbuhnya.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi mengikuti formula yang ditetapkan dalam regulasi, termasuk Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengacu pada pergerakan harga minyak dunia.

Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan, Kenaikan harga tersebut, terutama berdampak pada kelompok masyarakat mampu. Ia menilai jenis BBM dengan kualitas tinggi seperti RON 98 dan solar dengan cetane number tinggi umumnya dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas.

Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga menyatakan penyesuaian harga dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional dan daya beli masyarakat. Meski harga minyak dunia sempat menyentuh level tinggi, pemerintah tetap menahan harga BBM subsidi demi menjaga stabilitas sosial.

Adapun rincian kenaikan harga BBM nonsubsidi per April 2026 adalah:

  • Pertamax Turbo: dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter
  • Dexlite: dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter
  • Pertamina Dex: dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter

Sementara itu, harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green belum mengalami perubahan karena masih dalam tahap evaluasi. BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga tetap dipertahankan.

Kebijakan ini sejalan dengan tren global, di mana sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, hingga Jepang telah lebih dulu menyesuaikan harga BBM mengikuti dinamika pasar energi dunia, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan minyak.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...