Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memproyeksikan realisasi investasi pada Triwulan I 2026 mencapai Rp 497 triliun, atau meningkat sekitar 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyebut capaian tersebut sebagai sinyal positif di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
“Kita masih menunggu sampai tanggal 15 untuk perhitungan pasti. Tapi dengan perkembangan ini, target pada tiga bulan pertama sebesar Rp 497 triliun, insyaallah bisa tercapai,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut setara dengan kenaikan sekitar 7 persen secara tahunan. Selain mencatat peningkatan nilai investasi, realisasi pada Kuartal I 2026 juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Rosan mengungkapkan, investasi tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 627 ribu lapangan kerja baru, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 594 ribu tenaga kerja.
“Penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 627 ribu orang atau naik sekitar 5,5 persen secara tahunan,” katanya.
Ia menambahkan, program hilirisasi yang terus didorong pemerintah menjadi salah satu faktor utama peningkatan investasi. Menurut Rosan, sektor hilirisasi menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia.
Di sisi sektoral, industri logam dasar menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp 67 triliun sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Disusul sektor transportasi, pergudangan, dan logistik sebesar Rp 54 triliun, kemudian pertambangan Rp 51 triliun, jasa lainnya termasuk pusat data Rp 43 triliun, serta perumahan dan kawasan sebesar Rp 36 triliun.
Secara wilayah, Jakarta mencatat realisasi investasi terbesar dengan nilai Rp 74 triliun, diikuti Jawa Barat Rp 72 triliun, Jawa Timur Rp 38 triliun, Sulawesi Tengah Rp 34 triliun, dan Banten Rp 33 triliun.
Sementara itu, sumber penanaman modal asing masih didominasi oleh negara-negara mitra utama seperti Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.
“Negara-negara tersebut masih menjadi kontributor terbesar penanaman modal asing ke Indonesia,” ujar Rosan.
Rosan juga menilai Indonesia semakin menarik di mata investor global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Menurutnya, stabilitas politik dan keamanan menjadi salah satu keunggulan utama Indonesia dibandingkan negara lain.
“Mereka melihat Indonesia menjadi lebih menarik karena kita mampu menjaga stabilitas, baik politik maupun keamanan, serta iklim investasi yang tetap kondusif,” katanya.
Ia menambahkan, meningkatnya minat investor juga tidak terlepas dari peran diplomasi ekonomi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam berbagai kunjungan luar negeri, Rosan menyebut Prabowo aktif bertemu dengan pelaku usaha dan memberikan penjelasan langsung mengenai kondisi ekonomi Indonesia.
“Hal ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa Presiden memahami kondisi geopolitik dan perekonomian, serta langkah-langkah yang telah diambil pemerintah,” tutupnya.
Akbari Danico – Redaksi

