Pemerintah China melalui Kementerian Luar Negeri mengecam langkah Amerika Serikat yang memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, dengan menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab.
Pernyataan itu disampaikan setelah blokade resmi mulai diberlakukan, sehari pasca gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi memperburuk ketegangan sekaligus merusak kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut justru dapat memperumit situasi yang sudah sensitif, alih-alih mendorong penyelesaian konflik.
Di sisi lain, China memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan, mengingat negara tersebut merupakan salah satu importir utama minyak dari Iran. Kondisi ini membuat Beijing berkepentingan agar konflik segera mereda dan stabilitas pasar energi global dapat kembali terjaga.
Pengamat menilai sikap China mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap dampak konflik terhadap perdagangan internasional, khususnya di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik krusial distribusi energi dunia.
Akbari Danico – Redaksi

