Metropolitan

DLH DKI Ajak Semua Pihak Perkuat Gerakan Pilah Sampah dari Sumber untuk Atasi Persoalan Sampah

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam mengatasi persoalan sampah di Ibu Kota. Upaya ini dilakukan dengan memperkuat “Gerakan Pengurangan dan Pilah Sampah dari Sumber” sebagai langkah mendasar menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.

Sejalan dengan arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, DLH mendorong para wali kota, camat, hingga lurah untuk menjadi penggerak utama di wilayah masing-masing. Peran mereka dinilai krusial dalam membangun kesadaran, mengedukasi, sekaligus memastikan kebiasaan memilah sampah dapat tumbuh dan berjalan konsisten di tengah masyarakat.

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menegaskan penanganan sampah tidak bisa terus bergantung pada pengangkutan dan penimbunan semata. Perubahan harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

“Pemilahan sampah dari sumber harus dilakukan secara konsisten dan masif agar benar-benar berdampak pada pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang,” ujarnya di Jakarta, pada Kamis (2/4).

Menurut Asep, keberhasilan gerakan ini sangat ditentukan oleh kekuatan koordinasi di tingkat wilayah. Kolaborasi antara pemerintah kota, kecamatan, hingga kelurahan menjadi fondasi penting dalam menggerakkan partisipasi warga.

Sebagai bagian dari penguatan tersebut, DLH juga mendorong pengaktifan kembali berbagai sarana pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bidang Pengelola Sampah (BPS) di tingkat RW, diharapkan dapat kembali menjadi pusat aktivitas pengelolaan sampah di lingkungan warga.

Selain itu, pengolahan sampah organik melalui biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF) juga terus didorong. Metode ini terbukti efektif dalam mengurangi sampah sisa makanan yang selama ini mendominasi timbulan sampah rumah tangga. Ia juga mengingatkan, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga warga.

“Kita upayakan pemilahan sudah menjadi kebiasaan di rumah, yaitu diawali dari memisahkan sisa makanan, plastik, dan tidak mencampurnya dalam satu wadah, Dampaknya besar, tidak hanya bagi kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan dan kualitas hidup masyarakat,” jelasnya.

Tak hanya di tingkat rumah tangga, DLH juga mendorong sektor hotel, restoran, dan kafe (HORECA) berperan aktif dalam pengelolaan sampah. Langkah ini menjadi bagian penting untuk mengurangi timbulan sampah langsung dari sumbernya.

Asep menegaskan, setiap pelaku usaha punya kewajiban mengelola sampahnya secara mandiri dan bertanggung jawab, sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 102 Tahun 2021 tentang Kewajiban Pengelolaan Sampah di Kawasan dan Perusahaan.

Dalam praktiknya, pelaku usaha didorong untuk memulai dari langkah sederhana, seperti menyediakan empat jenis wadah sampah: mudah terurai, material daur ulang, residu, serta sampah B3 rumah tangga.

Lebih lanjut, Asep menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam pengelolaan sampah, khususnya di sektor komersial yang memiliki kapasitas dan sumber daya lebih besar. Tanggung jawab pelaku usaha, menurutnya, tidak berhenti pada operasional bisnis, tetapi juga mencakup dampak lingkungan yang dihasilkan.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah Jakarta secara keseluruhan. Pemilahan dari sumber akan meningkatkan efektivitas fasilitas pengolahan seperti Refuse Derived Fuel (RDF) dan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

DLH mengajak seluruh pelaku usaha HORECA konsisten menjalankan pengelolaan sampah mandiri. Kolaborasi semua pihak diyakini menjadi kunci dalam mewujudkan kota yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...