National

Ekonom UI: Ekonomi RI Kuartal I-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,54 Persen, Tunjukkan Daya Tahan

Di tengah ketidakpastian global akibat konflik di kawasan Timur Tengah, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 diperkirakan tetap solid. Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,54 persen.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan median konsensus Bloomberg yang berada di level 5,25 persen, serta hanya terpaut tipis dari target pemerintah sebesar 5,55 persen. Menurut Fithra, selisih tersebut tidak lepas dari pendekatan analisis yang memperhitungkan efek basis rendah pada kuartal I-2025 yang tercatat hanya tumbuh 4,87 persen.

Secara keseluruhan, menurut Fithra, kinerja ekonomi di awal tahun ini dinilai masih solid. Bahkan untuk sepanjang 2026, pertumbuhan diperkirakan berada di level 5,37 persen.

Proyeksi ini mencerminkan keseimbangan antara dorongan dari berbagai program strategis pemerintah, seperti Danantara dan Proyek Strategis Nasional (PSN), dengan tekanan moderat yang berasal dari dinamika geopolitik global.

Dalam skenario yang lebih berat sekalipun, ditegaskan Fithra, misalnya jika tensi geopolitik meningkat tajam, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih diperkirakan mampu bertahan di atas 5 persen, yakni sekitar 5,18 persen.

Lebih lanjut, Fithra juga menilai proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti World Bank dan OECD yang lebih rendah, masing-masing di kisaran 4,7 persen dan 4,8 persen, belum sepenuhnya mencerminkan potensi akselerasi dari implementasi program pemerintah yang diperkirakan akan semakin terasa pada paruh kedua tahun ini.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa capaian kuartal I-2026 tidak boleh serta-merta dianggap sebagai tanda percepatan struktural ekonomi. Jika efek basis rendah dikeluarkan, pertumbuhan riil Indonesia dinilai berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen.

Selain itu, indeks penjualan ritel modern (MSI) juga melambat menjadi 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 7,5 persen. Ia menekankan bahwa memasuki kuartal II-2026 akan menjadi fase krusial, terutama dengan adanya risiko normalisasi pasca-Lebaran.

Dalam skenario dasar, program pemerintah masih diharapkan mampu menahan tekanan eksternal, namun tren penurunan tabungan masyarakat berpenghasilan rendah menjadi risiko utama yang perlu dimonitor ketat.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...