Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memasuki hari kedua pada Kamis (9/4), di tengah ketidakjelasan terkait status Selat Hormuz serta situasi di Lebanon, di mana Israel masih melanjutkan serangan terhadap Hezbollah. Pada Rabu (8/4), Iran menyatakan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dan menuding AS tidak memenuhi komitmennya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Washington harus memilih antara gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel. Sementara itu, Pakistan selaku mediator juga menyebut Lebanon tercakup dalam kesepakatan—klaim yang dibantah oleh Gedung Putih.
Israel sendiri menegaskan bahwa gencatan senjata tidak berlaku untuk Lebanon dan melancarkan lebih dari 100 serangan pada Rabu. Otoritas Lebanon melaporkan sekitar 180 orang tewas dan 900 lainnya luka-luka. Sebagai balasan, Hezbollah pada Kamis menyatakan telah meluncurkan roket ke wilayah Israel dan berjanji akan terus menyerang hingga agresi dihentikan.
Menjelang akhir Rabu, Presiden Donald Trump menyatakan melalui media sosial bahwa kapal, pesawat, dan personel militer AS akan tetap berada di sekitar Iran hingga tercapai “kesepakatan nyata”. Jika tidak, ia memperingatkan bahwa pertempuran akan kembali terjadi dengan skala yang lebih besar.
Pembicaraan damai yang dimediasi Pakistan dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Sabtu. Wakil Presiden AS JD Vance disebut akan hadir bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, sempat menyatakan bahwa delegasi Iran akan tiba di Islamabad pada Kamis malam, meski unggahan tersebut kemudian dihapus.
Pengumuman gencatan senjata selama dua pekan sempat menenangkan pasar global dan menurunkan harga minyak di bawah 100 dolar AS per barel. Minyak mentah Brent ditutup di angka 94,75 dolar, masih sekitar 30% lebih tinggi dibanding sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain sebelumnya menghadapi serangan rudal dan drone hampir setiap hari, namun pada Kamis pagi tidak ada laporan serangan baru.
Meski situasi tampak relatif tenang, status Selat Hormuz masih belum jelas. Iran menyatakan kapal dapat melintas dengan koordinasi militer, namun hingga Kamis pagi belum ada kapal tanker minyak atau gas yang benar-benar melintasi jalur tersebut sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut data dari Kpler.
Ketidakpastian ini menunjukkan bahwa meski gencatan senjata telah berjalan, risiko terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi global masih belum sepenuhnya mereda.
Akbari Danico – Redaksi

