Presiden AS Donald Trump pada Minggu (12/4), mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz, sebagai langkah meningkatkan tekanan terhadap Iran setelah perundingan damai di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Keputusan tersebut semakin memperuncing ketidakpastian gencatan senjata yang sudah rapuh. Wakil Presiden JD Vance dan negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf diketahui telah bertemu, namun gagal mencapai kesepakatan untuk membuka penuh jalur pelayaran dan mengakhiri konflik. Langkah blokade laut ini bahkan berpotensi dianggap sebagai tindakan perang oleh Iran.
Trump sebelumnya mensyaratkan gencatan senjata dua pekan dengan pembukaan Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan de facto oleh Iran selama konflik telah mendorong lonjakan harga minyak global hingga lebih dari 50 persen.
Meski gencatan senjata telah diumumkan, kenyataannya hanya sedikit kapal yang melintas sejak pekan lalu. Pihak AS menuding Iran berupaya mengenakan biaya terhadap kapal yang melintas, sementara Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan menghentikan kapal yang membayar biaya tersebut.
Di sisi lain, Iran belum menunjukkan tanda akan melonggarkan kendalinya atas selat tersebut, yang dianggap sebagai alat tawar strategis. Salah satu anggota tim negosiasi Iran, Ali Akbar Velayati, bahkan menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz tetap berada di tangan mereka.
Para analis menilai perbedaan antara kedua negara terlalu kompleks untuk diselesaikan dalam satu putaran perundingan. Meski demikian, kedua pihak masih membuka kemungkinan untuk melanjutkan negosiasi sebelum masa gencatan senjata berakhir pada 21 April.
Ghalibaf juga menyoroti rendahnya tingkat kepercayaan sebagai hambatan utama dalam perundingan, dengan menyatakan bahwa AS belum mampu membangun kepercayaan dari pihak Iran.
Konflik ini sendiri dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, dan memicu perang berkepanjangan selama lebih dari sebulan. Perundingan di Pakistan menjadi pertemuan tatap muka tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Iran 1979.
Trump, yang mengikuti jalannya negosiasi dari Florida, sebelumnya mengumumkan gencatan senjata untuk meredam dampak gangguan pasokan energi global, termasuk hilangnya akses terhadap sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Selain isu Selat Hormuz, dua persoalan utama lain dalam negosiasi adalah nasib uranium yang telah diperkaya dalam jumlah besar serta tuntutan Iran agar sekitar 27 miliar dolar aset yang dibekukan di luar negeri dapat dicairkan.
Akbari Danico – Redaksi

