World

Internet Lumpuh dan Industri Terpukul, Warga Iran Kehilangan Pekerjaan

Seorang desainer lepas bernama Asal, yang tinggal di Tehran, mengaku kehidupannya berubah drastis sejak akses internet di negaranya terputus selama hampir dua bulan.

Sebelumnya, ia rutin mendapatkan proyek dari luar negeri. Namun kini, tidak ada lagi pekerjaan baru maupun balasan dari klien. “Seolah semuanya berhenti dalam semalam,” ujarnya melalui sambungan telepon, yang dikutip dari CNN (28/4).

Dengan suara bergetar, Asal mengatakan penghasilannya bahkan tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ia menjadi satu dari jutaan warga Iran yang terdampak langsung konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, kehilangan pekerjaan, dan terancam jatuh ke dalam kemiskinan.

Dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari Pekerja kilang, industri tekstil, sopir truk, pramugari, hingga jurnalis termasuk dalam gelombang besar pengangguran baru. Padahal, sebelum konflik pun ekonomi Iran sudah berada dalam kondisi rapuh, dengan pendapatan per kapita turun drastis dalam satu dekade terakhir akibat inflasi, korupsi, dan sanksi internasional.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP), hingga 4,1 juta orang tambahan berpotensi jatuh miskin akibat konflik ini. Ribuan serangan udara juga menyebabkan kerusakan luas, menghantam lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Iran, Gholamhossein Mohammadi, menyebut sekitar satu juta pekerjaan hilang secara langsung, sementara efek domino mendorong satu juta lainnya kehilangan mata pencaharian.

Gangguan pada jalur pelayaran dan impor semakin memperburuk situasi. Peneliti Quincy Institute, Hadi Kahalzadeh, memperingatkan bahwa hingga 50% pekerjaan di Iran kini terancam, dengan tambahan 5% populasi berisiko jatuh ke kemiskinan. Banyak perusahaan terpaksa menghentikan operasional akibat tekanan perang, inflasi, resesi, dan turunnya permintaan.

Inflasi tahunan pada Maret mencapai 72%, bahkan lebih tinggi untuk kebutuhan pokok. Serangan udara Israel terhadap kompleks petrokimia membuat ribuan pekerja dirumahkan tanpa gaji. Dampaknya merembet ke industri lain—perusahaan trailer Maral Sanat memecat 1.500 pekerja karena kekurangan baja, sementara perusahaan tekstil besar Borujerd memberhentikan 700 karyawan.

Di sektor lain, Soheila, seorang pramugari senior, mengatakan seluruh penerbangan dibatalkan mendadak, dan kontraknya berakhir tanpa kepastian penghasilan. Sementara itu, data resmi menunjukkan lonjakan tajam klaim asuransi pengangguran, mencapai 147.000 dalam dua bulan terakhir—tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Perusahaan e-commerce terbesar Iran, Digikala, juga dilaporkan mulai melakukan PHK massal. Banyak bisnis berbasis internet ikut lumpuh, padahal sektor ini sebelumnya diharapkan menjadi penopang ekonomi pascakonflik.

Jafar, seorang analis data, mengatakan perusahaannya tutup total dan membuat lebih dari 50 orang kehilangan pekerjaan. Kini ia mempertimbangkan bekerja sebagai pengemudi transportasi online demi bertahan hidup.

Dampak paling terasa juga dialami perempuan yang bekerja dari rumah. Somayeh, guru bahasa dari Isfahan, terpaksa beralih ke aplikasi lokal yang tidak stabil.

“Tidak ada yang berjalan normal lagi. Platform sering bermasalah dan murid tidak bisa masuk bersamaan,” ujarnya.

Perempuan menyumbang sepertiga dari total klaim pengangguran sejak perang dimulai. Lonjakan ini semakin membebani sistem jaminan sosial yang sudah tertekan, di tengah pendapatan negara yang menurun.

Tanpa dukungan cepat dari pemerintah seperti keringanan pajak, pinjaman berbunga rendah, dan bantuan untuk usaha kecil gelombang pengangguran diperkirakan akan semakin besar.

Krisis ini juga memicu kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Saeed Tajik dari Kamar Dagang Tehran menyoroti ketimpangan, di mana pegawai pemerintah mendapat kenaikan gaji besar sementara sektor swasta justru melakukan PHK.

Pemerintah Iran menyebut kesulitan ini sebagai dampak perang yang “tidak adil”, dan berencana memperluas bantuan subsidi untuk masyarakat miskin. Namun media lokal memperingatkan situasi ekonomi kini sangat serius dan kompleks, bahkan mungkin memerlukan kebijakan ekonomi khusus ala masa perang.

Di tengah inflasi, pengangguran, dan ketidakpastian, masa depan banyak warga Iran masih suram. “Penurunan penghasilan memang berat, tapi yang lebih buruk adalah ketidakpastian ini,” kata Somayeh. “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...