Iran pada Senin (6/4), memperingatkan akan melakukan pembalasan besar jika Presiden Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan, kecuali Teheran menghentikan blokade di Selat Hormuz.
Kedua negara kini berada di ambang fase baru konflik yang berpotensi semakin luas, seiring meningkatnya ancaman dan serangan. Dalam perkembangan terbaru, serangan Israel pada Senin dilaporkan menewaskan Majid Khademi, kepala intelijen Islamic Revolutionary Guard Corps, menambah daftar pejabat tinggi Iran yang tewas.
Trump berulang kali mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz jalur penting bagi distribusi minyak dan gas dunia. Namun, Iran menolak mundur dan terus meluncurkan serangan rudal balistik ke negara-negara sekitar serta mengganggu jalur pelayaran global.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa jika serangan terhadap target sipil terus berlanjut, maka fase berikutnya dari operasi balasan Iran akan dilakukan dengan skala yang jauh lebih besar dan menghancurkan.
Serangan terhadap pembangkit listrik berpotensi berdampak pada jutaan warga sipil, dan banyak pakar hukum menilai tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional. Selain itu, eskalasi konflik juga memperburuk kekhawatiran terhadap ekonomi global yang sudah terguncang akibat lonjakan harga energi sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Harga minyak sempat naik pada perdagangan Asia hari Senin sebelum kembali turun setelah muncul laporan mengenai kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat.
Kebuntuan ini membuat Trump mempertimbangkan berbagai opsi ekstrem, termasuk kemungkinan invasi darat ke pulau-pulau di Teluk Persia. Upaya mediasi oleh Pakistan, Mesir, dan Turki sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan.
Meski sebelumnya sempat menunda ancaman serangan, para analis menilai bahwa penundaan berulang tanpa hasil konkret berisiko merusak kredibilitas Trump.
Didorong oleh keberhasilan penyelamatan pilot AS di Iran, Trump sempat menyatakan optimisme bisa mencapai kesepakatan pada Senin. Namun di saat yang sama, ia juga mengancam akan “menghancurkan segalanya” dan mengambil alih minyak Iran jika tidak ada kerja sama.
Dalam unggahan media sosial bernada keras, Trump bahkan mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz, atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur penting. Ia kemudian menyebut waktu spesifik “Selasa, pukul 20.00 waktu Timur AS”, yang diduga sebagai tenggat pelaksanaan serangan.
Situasi ini menandai titik kritis konflik, dengan risiko eskalasi besar yang dapat berdampak luas, baik secara militer maupun ekonomi global.
Akbari Danico – Redaksi

