Iran menembak jatuh sebuah jet tempur Amerika Serikat di wilayah udaranya, menurut keterangan pejabat AS dan Israel serta media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran pada Jumat.
Hingga kini, nasib awak pesawat belum diketahui. Otoritas AS bersama sekutu, termasuk Israel, segera menggelar operasi pencarian dan penyelamatan guna menemukan kemungkinan korban selamat sebelum pihak Iran mencapai lokasi jatuhnya pesawat.
Insiden ini menambah tekanan militer dan diplomatik bagi Washington, di tengah ancaman Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyatakan akan menghancurkan Iran “hingga ke Zaman Batu.” Dalam 24 jam terakhir, kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer dan sipil di kawasan.
Di Kuwait, perusahaan minyak nasional melaporkan serangan drone yang menghantam kilang Mina al-Ahmadi, sementara pemerintah setempat menyebut fasilitas listrik dan desalinasi air juga mengalami kerusakan akibat serangan dari Iran. Di Abu Dhabi, puing hasil intersepsi sistem pertahanan udara memicu kebakaran di ladang gas utama hingga menghentikan operasional.
Sehari sebelumnya, militer AS juga menyerang jembatan utama di dekat Teheran, yang dilaporkan menewaskan delapan orang menurut media Iran.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, Iran menargetkan kilang minyak, tanker, serta fasilitas energi di berbagai wilayah, sementara Israel melakukan serangan balasan terhadap target serupa di Iran. Penargetan infrastruktur energi secara sengaja dinilai berpotensi melanggar hukum internasional.
Serangan-serangan tersebut, ditambah blokade Selat Hormuz oleh Iran—jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia—telah memicu lonjakan harga minyak global.
Trump kembali mengancam akan memperluas serangan ke infrastruktur energi Iran jika jalur tersebut tidak dibuka kembali, termasuk dengan menargetkan pembangkit listrik negara tersebut.
Di sisi lain, pejabat Iran tetap menunjukkan sikap menantang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington tidak mungkin dilakukan dalam kondisi saat ini.
Situasi ini memperlihatkan eskalasi konflik yang semakin luas, dengan dampak yang tidak hanya terbatas pada militer, tetapi juga mulai mengganggu stabilitas energi dan ekonomi global.
Akbari Danico – Redaksi

