World

JD Vance Kembali ke Pakistan, Negosiasi AS-Iran Masih Penuh Ketidakpastian

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, dijadwalkan kembali memimpin delegasi AS ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan perundingan langsung dengan Iran, setelah upaya sebelumnya gagal menghasilkan kesepakatan.

Namun, belum ada kepastian apakah pertemuan tersebut benar-benar akan terlaksana. Beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana kunjungan itu, media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran belum menyetujui pertemuan lanjutan.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah laporan bahwa kapal perusak Angkatan Laut AS menyerang kapal kargo berbendera Iran yang mencoba melewati blokade di sekitar Selat Hormuz.

Dengan gencatan senjata dua pekan yang hampir berakhir, kondisi untuk memulai kembali diplomasi dinilai belum ideal. Kegagalan dalam putaran kedua ini akan membawa konsekuensi besar, baik bagi upaya mengakhiri konflik maupun bagi posisi politik Vance sendiri.

Trump kembali mengeluarkan ancaman keras jika Iran tidak menyetujui syarat yang diajukan Washington. Ia menyebut Amerika Serikat siap mengambil langkah ekstrem terhadap infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Dalam perundingan kali ini, Vance akan didampingi utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner. Meski demikian, peran utama tetap berada di tangan Vance, yang ditugaskan mencari jalan keluar dari konflik yang semakin tidak populer di dalam negeri AS dan berdampak luas terhadap ekonomi global.

Sebelumnya, Vance telah menghabiskan lebih dari 20 jam bernegosiasi di Pakistan, namun kembali tanpa hasil. Jika kembali gagal, hal ini berpotensi menjadi pukulan politik terbaru baginya di tengah sorotan internasional.

Di sisi lain, Iran juga menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan. Kesepakatan dengan AS berpotensi membuka akses terhadap aset yang dibekukan serta meringankan sanksi ekonomi, yang sangat dibutuhkan untuk pemulihan pascakonflik.

Meski terdapat indikasi kemajuan dalam pembicaraan sebelumnya, sejumlah isu krusial masih belum terselesaikan, termasuk terkait program nuklir Iran. Washington dilaporkan menginginkan penghentian pengayaan uranium selama 20 tahun, sementara Iran hanya bersedia untuk jangka waktu yang lebih singkat.

Status Selat Hormuz juga menjadi salah satu titik sengketa utama. Iran sebelumnya memberlakukan pembatasan di jalur tersebut, sementara AS merespons dengan memblokade akses ke pelabuhan Iran.

Di tengah situasi yang kompleks ini, Pakistan tampak bersiap menjadi tuan rumah putaran baru negosiasi. Keamanan di Islamabad diperketat, dengan ribuan personel tambahan dikerahkan, menandakan bahwa pembicaraan kemungkinan tetap akan berlangsung meskipun kedua pihak masih menunjukkan sikap yang saling bertolak belakang di ruang publik.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...