Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat menyatakan keberhasilan dalam mendorong perubahan rezim di Teheran, namun kini justru menghadapi situasi yang ia sebut sebagai perpecahan dalam pemerintahan Iran.
Dengan banyaknya pejabat tinggi Iran yang dilaporkan tewas, muncul ketidakpastian mengenai siapa yang memegang kendali di dalam negeri. Kondisi ini dinilai semakin menyulitkan upaya diplomasi antara kedua negara.
Seorang penasihat dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menuduh bahwa langkah Trump hanyalah upaya untuk membeli waktu sebelum melancarkan serangan mendadak berikutnya.
Sementara itu, juru bicara militer Iran kembali memperingatkan bahwa negaranya siap memberikan respons jika serangan semacam itu benar-benar terjadi.
Di Islamabad, Pakistan, persiapan untuk putaran baru perundingan sebenarnya masih berlangsung, dengan sejumlah area kota tetap berada dalam pengamanan ketat.
Namun demikian, harapan untuk terlaksananya pertemuan dalam waktu dekat tampaknya mulai memudar, seiring meningkatnya ketegangan dan ketidakpastian di kedua pihak.
Akbari Danico – Redaksi

