Perusahaan energi asal Inggris, BP, mencatat lonjakan laba lebih dari dua kali lipat pada kuartal pertama tahun ini, didorong oleh aktivitas perdagangan minyak yang memanfaatkan gejolak harga akibat konflik Iran.
BP melaporkan laba sebesar £3,2 miliar (sekitar $4,3 miliar), naik signifikan dari £1,4 miliar ($1,9 miliar) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan menyebut hasil tersebut didukung oleh kinerja trading minyak yang “luar biasa”, di mana volatilitas harga memberikan peluang besar bagi para trader untuk meraih keuntungan.
Selain itu, peningkatan margin di sektor pengolahan minyak serta performa kuat dari bisnis midstream yang mencakup penyimpanan dan distribusi minyak serta gas juga turut mendongkrak kinerja perusahaan. Saham BP pun naik sekitar 2,8% di perdagangan London.
CEO baru BP, Meg O’Neill, menyatakan bahwa perusahaan terus berupaya menjaga stabilitas produksi energi. Ia menegaskan BP bekerja sama dengan pelanggan dan pemerintah untuk memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia dan meminimalkan gangguan di pasar.
Sementara itu, harga minyak mentah global jenis Brent crude sempat melonjak hingga di atas $110 per barel—level tertinggi sejak awal April setelah sebelumnya berada di kisaran $73 sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Di tengah lonjakan keuntungan ini, kritik pun bermunculan. Kelompok kampanye End Fuel Poverty Coalitionmenyerukan penerapan pajak windfall terhadap perusahaan energi yang meraup keuntungan besar dari krisis.
Koordinator kelompok tersebut, Simon Francis, menyatakan bahwa lonjakan laba ini menunjukkan ketimpangan yang terjadi, di mana perusahaan energi diuntungkan oleh kenaikan harga, sementara masyarakat harus menanggung beban biaya energi yang semakin tinggi.
Akbari Danico – Redaksi

