Delapan negara anggota konsorsium produsen minyak OPEC Plus menyampaikan kekhawatiran pada Minggu terkait dampak perang dengan Iran terhadap pasokan minyak global dan infrastruktur energi di kawasan.
Kelompok yang mencakup Arab Saudi, Irak, dan Kuwait itu juga mengumumkan rencana menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari mulai bulan depan. Namun, langkah ini dinilai lebih bersifat simbolis karena blokade de facto Iran di Selat Hormuz masih menghambat distribusi minyak ke pasar global.
Dalam pernyataannya, OPEC Plus menegaskan bahwa setiap tindakan yang mengganggu keamanan pasokan energi baik melalui serangan terhadap infrastruktur maupun gangguan jalur pelayaran internasional akan meningkatkan volatilitas pasar. Mereka juga mengingatkan bahwa pemulihan fasilitas energi yang rusak membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak singkat.
Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali mengancam Iran dengan kehancuran lebih lanjut jika tidak segera membuka Selat Hormuz, jalur vital yang kini menjadi titik krusial dalam konflik. Dalam pernyataan keras di media sosial, Trump memperingatkan bahwa Iran harus membuka selat tersebut atau menghadapi konsekuensi besar, bahkan menyebut akan ada serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan.
Sejumlah negara produsen utama dalam OPEC Plus juga telah memangkas produksi minyak akibat kendala distribusi yang parah. Hingga pertengahan Maret, negara-negara Teluk Persia dilaporkan memangkas sekitar 10 juta barel produksi harian setara sekitar 10 persen dari pasokan global menurut International Energy Agency, yang juga memperkirakan pemangkasan akan semakin dalam jika konflik terus berlanjut.
Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam. Hingga Kamis, harga minyak internasional telah naik sekitar 50 persen menjadi 109 dolar per barel sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Delapan negara yang terlibat dalam keputusan tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Situasi ini menunjukkan betapa konflik yang berlangsung tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga mengguncang stabilitas energi dan ekonomi global.
Akbari Danico – Redaksi

