Pemerintah resmi meluncurkan Buku Saku “0%, Penerima Manfaat dan Penerima Kesejahteraan” sebagai upaya memastikan bantuan sosial lebih tepat sasaran. Buku ini juga menjadi panduan ringkas tentang arah kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto dalam melakukan transformasi kebijakan untuk menghapus kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari menjelaskan, buku saku ini tidak hanya memuat daftar program bantuan, tetapi juga menjadi instrumen transparansi sekaligus panduan praktis bagi masyarakat untuk memahami hak dan cara mengakses berbagai dukungan pemerintah.
Menurut Qodari, buku tersebut merangkum berbagai program lintas sektor yang terintegrasi dalam satu sistem. Pemerintah juga mengandalkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran serta mengurangi kesalahan penyaluran.
Melalui integrasi data tersebut, pemerintah berupaya mengurangi kesalahan penyaluran, baik inclusion error maupun exclusion error, sekaligus meningkatkan transparansi dan efisiensi program kesejahteraan. Sistem ini juga memungkinkan pembaruan data secara dinamis melalui integrasi digital dan verifikasi berjenjang dari tingkat desa hingga pusat.
Ia menegaskan, pendekatan kebijakan kini bersifat holistik dan berkelanjutan, mencakup seluruh siklus hidup masyarakat—dari masa kandungan hingga lanjut usia. Tujuannya, tidak hanya menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga menjaga kelompok rentan dan mendorong masyarakat naik kelas secara ekonomi.
Karena itu, pemerintah tidak hanya fokus menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga menjaga kelompok rentan agar tidak kembali jatuh ke bawah, sekaligus mendorong kelompok aspiring middle class naik kelas dan memperkuat kelas menengah.
Sebagai panduan praktis, buku ini menyajikan berbagai program lintas sektor, mulai dari bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi, yang dirancang secara terintegrasi untuk memutus rantai kemiskinan. Melalui integrasi data dan program, pemerintah optimistis target penghapusan kemiskinan ekstrem dapat dicapai secara bertahap.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

