Sawinah, warga Desa Poh Gading, Kabupaten Pati, harus berjuang seorang diri membesarkan dua anaknya di tengah keterbatasan ekonomi. Ditinggal suami tanpa kabar sejak lama, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan penghasilan dari berdagang yang tidak menentu.
Saat ini, ia mencari nafkah sebagai pedagang dengan penghasilan kotor rata-rata Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari. Sawinah mengaku jumlah tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ia tetap berupaya mencukupkannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut sempat membuat anaknya, Bayu Laksono, kesulitan melanjutkan pendidikan. Ia hanya sempat bersekolah selama satu bulan di tingkat SMP sebelum akhirnya berhenti karena tidak memiliki biaya transportasi dan keterbatasan akses ke sekolah.
Awalnya, Bayu sempat bersekolah di salah satu SMP di desanya selama sebulan. Namun, karena tidak punya uang untuk ongkos ke sekolah dan tidak ada yang mengantar, Bayu pun terpaksa mengurungkan niat untuk bersekolah. Peristiwa ini membuat hati Sawinah iba, terlebih Bayu selalu menangis karena sering tidak memiliki ongkos untuk berangkat ke sekolah.
Harapan muncul ketika Sawinah mengetahui program Sekolah Rakyat. Setelah mencari informasi, Bayu akhirnya diterima di SRMP 12 Pati dan dapat kembali bersekolah tanpa dipungut biaya.
Selain bebas biaya pendidikan, Bayu juga mendapatkan perlengkapan sekolah lengkap serta tinggal di asrama yang disediakan. Fasilitas ini membuatnya tidak lagi terkendala ongkos transportasi dan dapat lebih fokus belajar.
Oleh karena itu, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Prabowo atas program Sekolah Rakyat yang dinilainya tidak hanya meringankan beban ekonomi, tetapi juga membantu Bayu meraih cita-citanya. Ia juga berharap dapat menyekolahkan adik Bayu ke Sekolah Rakyat, setelah melihat perubahan positif pada diri anaknya.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

