Senator Kanada dari British Columbia, Yuen Pau Woo, menekankan pentingnya implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA). Ia menyebut kerja sama tersebut memiliki makna lebih luas dari sekadar perdagangan, terutama dalam konteks perubahan tatanan global.
Dalam pertemuan di Gedung Senat Kanada di Ottawa, Pau Woo menilai Kanada perlu memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
“Perjanjian ini bukan hanya tentang perdagangan, tetapi tentang bagaimana Kanada memposisikan diri di dunia yang semakin multipolar,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya diversifikasi hubungan ekonomi Kanada di luar Amerika Serikat menjadikan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara sebagai pasar prioritas.
Menurut Pau Woo, Indonesia memiliki posisi strategis yang telah terbentuk sejak lama, baik secara historis maupun geografis.
Ia menyoroti letak Indonesia di antara Samudra Hindia dan Pasifik, serta pentingnya jalur perdagangan global seperti Selat Malaka.
Bahkan, ia menilai peran Selat Malaka sangat krusial bagi perdagangan dunia, termasuk untuk distribusi energi dan logistik global.
“Jika blokade Selat Hormuz berdampak besar, maka blokade Selat Malaka akan jauh lebih signifikan bagi perekonomian global,” katanya.
Pau Woo juga menyinggung peran Indonesia sebagai negara berpengaruh di tingkat internasional. Ia menyebut Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia dan salah satu kekuatan utama di Asia Tenggara.
Selain itu, ia menyoroti peran Indonesia dalam berbagai forum global, termasuk keanggotaannya di G20 dan BRICS, serta sejarah kepemimpinan dalam Konferensi Asia-Afrika 1955.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia berpotensi memainkan peran yang lebih besar di masa depan.
Pau Woo juga menekankan pentingnya sentralitas ASEAN dalam strategi Indo-Pasifik Kanada.
Ia menilai Indonesia sebagai salah satu aktor kunci di kawasan, termasuk dalam menjaga keseimbangan geopolitik.
“Bagi Kanada, Asia Tenggara bukan hanya pasar, tetapi juga gerbang menuju kawasan paling penting di abad ke-21,” ujarnya.
Mengutip pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengenai perubahan tatanan dunia, Pau Woo menekankan pentingnya kebijakan luar negeri yang lebih independen.
Dalam konteks tersebut, ia menilai Kanada dapat belajar dari Indonesia dalam menjaga keseimbangan dan kemandirian hubungan internasional.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra penting dalam reformasi tata kelola global, serta aktif menyuarakan kepentingan negara berkembang di berbagai forum multilateral.
“Kita mungkin tidak selalu sependapat, tetapi mengabaikan pengaruh Indonesia dalam arsitektur global akan menjadi kesalahan,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Pau Woo menilai ICA-CEPA sebagai langkah penting untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Menurutnya, perjanjian tersebut tidak hanya terkait tarif, tetapi juga membangun kepercayaan serta membuka peluang kerja sama di berbagai bidang, mulai dari riset, pendidikan, hingga pertukaran budaya.
“Kita membutuhkan lebih banyak Indonesia, dan Indonesia membutuhkan lebih banyak Kanada,” ujarnya.
Akbari Danico – Redaksi

