Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai mengandalkan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai strategi utama untuk menekan Teheran agar memenuhi tuntutannya.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Ali Vaez, Direktur Iran Project di International Crisis Group. Ia mengatakan Trump tampaknya percaya bahwa blokade tersebut akan membuat Iran melemah dalam hitungan hari atau minggu, sehingga akhirnya bersedia mengikuti syarat yang diajukan Washington.
Namun, Vaez mengingatkan bahwa pengalaman sebelumnya justru menunjukkan tekanan ekonomi maupun militer dari AS cenderung membuat posisi Iran semakin keras, bukan melunak.
Ia juga menyoroti pertemuan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Menurut Vaez, Rusia dapat memainkan peran penting dalam dua kemungkinan skenario baik jika konflik kembali memanas maupun jika kesepakatan berhasil dicapai.
Selama perang berlangsung, Rusia disebut telah memberikan dukungan intelijen dan bantuan lainnya kepada Iran. Jika tercapai kesepakatan, posisi Rusia sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB juga dapat membantu Iran dalam mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh, jika Iran ingin memberlakukan biaya bagi kapal yang melintas di Strait of Hormuz, maka kemungkinan diperlukan resolusi dari Dewan Keamanan PBB.
Selain itu, Rusia juga menawarkan untuk menyimpan atau mengolah ulang uranium yang telah diperkaya oleh Iran, meskipun usulan ini sejauh ini ditolak oleh Amerika Serikat.
Pada akhirnya, Vaez menegaskan bahwa baik Iran maupun AS harus bersedia melakukan kompromi. Tanpa itu, risiko gejolak ekonomi global dan krisis pangan akan semakin besar sebuah kondisi yang bisa menjadi bencana bagi semua pihak.
Akbari Danico – Redaksi

