Duka menyelimuti jajaran TNI setelah tiga prajurit yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon gugur dalam tugas. Kepergian mereka meninggalkan kehilangan mendalam, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi bangsa.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Maruli Simanjuntak, menyampaikan bahwa para prajurit yang gugur merupakan sosok-sosok pilihan yang telah melalui proses seleksi ketat sebelum diberangkatkan dalam misi internasional tersebut.
“Tiga anggota kita gugur, untuk tiga orang ini kami sangat kehilangan,” ujar Maruli di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Jakarta, dikutip Senin (6/4/2026).
Menurutnya, dalam setiap penugasan luar negeri, termasuk di wilayah konflik seperti Lebanon, para prajurit telah dibekali dengan prosedur operasi standar (SOP) yang ketat, termasuk langkah-langkah perlindungan diri dalam situasi darurat.
Maruli juga memastikan bahwa investigasi akan dilakukan untuk mengungkap secara jelas kronologi kejadian yang menyebabkan gugurnya ketiga prajurit tersebut. Di tengah duka, KSAD turut menyampaikan pesan kepada keluarga prajurit yang masih bertugas di wilayah misi agar tetap tenang dan tidak larut dalam kekhawatiran.
Ketiga prajurit yang gugur yakni Mayor Anumerta Zulmi Aditya Iskandar (33), Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan (26), dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon (28).
Diketahui, Farizal gugur lebih dulu dalam serangan ke posisi UNIFIL di Adchit Al Qusayr, selatan Lebanon, pada 29 Maret 2026. Sehari berselang, Zulmi dan Ichwan gugur setelah kendaraan yang mereka tumpangi hancur akibat bom pinggir jalan di dekat Bani Hayyan.
Terkait insiden tersebut, TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) tengah menyiapkan langkah lanjutan guna mengungkap secara jelas penyebab peristiwa yang merenggut nyawa para prajurit tersebut.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

