National

Trubus Apresiasi Buku Saku “0%”, Dinilai Perkuat Arah Negara Kesejahteraan

Ketua Umum Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia, Trubus Rahardiansah, memuji buku saku “0% Manfaat dan Penerima Program Dukungan Kesejahteraan” yang diluncurkan Kantor Staf Presiden (KSP) bersama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) dan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan.

Menurut Trubus, hadirnya buku ini mencerminkan arah kebijakan pemerintah menuju negara kesejahteraan (welfare state). Akademisi Universitas Trisakti ini menyebutkan istilah “0 persen” dalam buku tersebut mengandung makna bahwa penerima manfaat program tidak lagi berada dalam kategori miskin karena telah mengalami peningkatan kesejahteraan.

“Artinya penerima manfaat program ini semua naik kelas, sehingga tidak ada lagi istilah miskin,” kata Trubus dalam acara peluncuran buku saku “0% Manfaat dan Penerima Program Dukungan Kesejahteraan” di Gedung Bina Graha, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4).

Trubus menjelaskan, secara filosofis kebijakan dalam buku tersebut berangkat dari konsep kesejahteraan yang menempatkan negara sebagai aktor utama dalam memastikan masyarakat sejahtera. Dalam perspektif akademik, lanjutnya, pendekatan ini sejalan dengan teori keadilan yang menekankan pemerataan.

Trubus merujuk pada pemikiran John Rawls tentang justice as fairness, yakni keadilan yang didistribusikan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat. Ia menilai prinsip tersebut tercermin dalam program yang menyasar berbagai kelompok, termasuk desil 1 hingga desil 5 yang memperoleh manfaat lebih besar.

Lebih lanjut, ia menyebut buku ini juga memuat kerangka teoretis (theoretical framework) yang menjelaskan arah kebijakan pemerintah. Menurutnya, hal ini menjawab pertanyaan publik mengenai arah pembangunan yang ditempuh pemerintahan saat ini.

Ia juga menyoroti adanya pembaruan paradigma kebijakan, merujuk pada pemikiran Thomas Kuhn, di mana program yang sudah ada seperti bansos dan PKH diperbarui dari sisi desain dan strategi. Selain itu, buku ini turut memperkenalkan program afirmatif seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Selain itu, Trubus melihat buku tersebut juga memuat kerangka empiris melalui kisah fakta di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa program yang dijalankan bukan sekadar opini, melainkan realitas sosial yang dapat dibuktikan.

Dalam perspektif sosiologi, Trubus mengaitkannya dengan pemikiran Émile Durkheim dan Max Weber yang menekankan bahwa realitas sosial merupakan fakta yang tidak dapat dibantahkan.

Terakhir, Trubus mengapresiasi strategi kebijakan dalam buku tersebut, termasuk program “0 persen” yang mendorong pemberdayaan diri (self empowerment) bagi penerima manfaat agar mampu menghadapi perubahan dan ketidakpastian global. Ia menambahkan, implementasi kebijakan tidak dapat langsung sempurna dan memerlukan tahapan.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...