Kebijakan bekerja dari rumah (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) yang dijalankan pemerintah dinilai sejalan dengan imbauan Badan Energi Nasional (IEA) untuk merespons kondisi global yang tengah memanas.
“WFH merupakan salah satu gerakan akar rumput dalam merespons isu geopolitik global,” kata peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, Kamis (2/4).
Metode WFH ini bahkan secara rinci dijelaskan Badan Energi Nasional sejak 2022. Per Maret 2026, IEA menajamkan gerakan ini agar masyarakat bisa menghemat energi untuk merespons situasi global yang dinamis. Menurut Bawono, WFH harus dilihat sebagai kebijakan terkait ketahanan ekonomi, efisiensi energi, dan respons terhadap dinamika geopolitik global.
“WFH jauh lebih filosofis dari sekadar mempertanyakan atau apriori terhadap cara kerja aparatur sipil negara (ASN),” kata Bawono.
Bawono setuju pemerintah memasukkan gerakan WFA ini sebagai salah satu dari delapan langkah Pemerintah merespons isu global. Dari delapan langkah tersebut tampak pemerintah memiliki visi untuk melindungi ketahanan energi di dalam negeri.
Meskipun tidak semua pekerjaan cocok untuk bekerja dari rumah, Bawono melihat WFH bisa menjadi langkah efektif apabila pekerjaan tersebut memungkinkan untuk dilakukan dari rumah.
Sebagai informasi, IEA merupakan organisasi antarpemerintah yang fokus mengamankan pasokan energi global, terutama minyak. Organisasi yang berpusat di Paris, Prancis, ini sudah merespons krisis energi sejak 2022 akibat perang Rusia dengan Ukraina.
Pada 18 Maret 2026, Badan Energi Nasional memperbarui responsnya seiring meningkatkan eskalasi di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Melalui laporan berjudul “A 10-Point Plan to Cut Oil Use” Badan Energi Nasional memberikan tahapan agar masyarakat dunia bisa resisten terhadap krisis energi. Dalam laporan 18 halaman itu, Badan Energi Nasional menyarankan karyawan untuk bekerja dari rumah (WFH) setidaknya tiga hari dalam seminggu.
Badan Energi Nasional menghitung WFH secara global bisa menghemat hingga 170 ribu barel minyak per hari. Jika dilakukan tiga hari, penghematannya bisa mencapai 500 ribu barel per hari.
Selain WFH, IEA juga mendorong pembatasan perjalanan udara, penerapan eco-driving, serta optimalisasi penggunaan kendaraan melalui berbagai langkah teknis. Upaya lain yang disarankan mencakup perluasan hari bebas kendaraan, penguatan kebijakan lalu lintas seperti ganjil-genap, hingga peningkatan penggunaan transportasi umum.
“Saran IEA ini hampir semuanya diadopsi oleh Pemerintah melalui kebijakan delapan transformasi budaya kerja dan gerakan hemat energi,” kata Bawono.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

