Amerika Serikat untuk sementara menunda penjualan senjata senilai US$14 miliar kepada Taiwan guna memastikan ketersediaan persenjataan bagi operasi perang melawan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, dalam sidang Senat pada Kamis.
Menurut Cao, penundaan dilakukan agar Amerika Serikat dapat memastikan stok amunisi tetap mencukupi untuk mendukung operasi militer gabungan AS-Israel di Iran yang diberi nama sandi “Epic Fury”.
Ia menegaskan bahwa penjualan militer luar negeri akan tetap dilanjutkan ketika pemerintah AS menilai situasi memungkinkan.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Presiden AS, Donald Trump, terlihat belum memberikan kepastian terkait paket senjata untuk Taiwan usai pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping.
Sementara itu, kantor kepresidenan Taiwan menyatakan belum menerima informasi resmi mengenai adanya penyesuaian kebijakan penjualan senjata dari Washington.
Penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan selama ini menjadi sumber ketegangan dengan Beijing. China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.
Dalam sidang tersebut, Hung Cao juga mengaku belum berbicara langsung dengan pihak Taiwan terkait keputusan penundaan itu.
Paket senjata senilai US$14 miliar tersebut diketahui telah menunggu persetujuan Trump selama beberapa bulan terakhir. Berdasarkan laporan Reuters pada Maret lalu, paket tersebut mencakup rudal pertahanan udara seperti PAC-3 buatan Lockheed Martin serta sistem rudal permukaan ke udara lainnya.
Trump sendiri belum memastikan apakah dirinya akan menyetujui paket tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News pekan lalu, ia menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai “alat negosiasi yang sangat baik” dalam hubungan dengan China. Ia juga mengatakan akan segera mengambil keputusan mengenai penjualan senjata tersebut dalam waktu dekat.
Pernyataan itu muncul setelah pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi Jinping di Beijing, di mana Xi disebut menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling penting dalam hubungan AS-China.
Trump kemudian mengungkapkan bahwa dirinya telah membahas secara rinci soal penjualan senjata AS ke Taiwan bersama Xi. Pernyataan tersebut dinilai mengejutkan karena bertentangan dengan komitmen AS pada 1982 yang menyatakan Washington tidak akan berkonsultasi dengan Beijing terkait penjualan senjata ke Taiwan.
Trump juga mengatakan dirinya berencana berbicara langsung dengan pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, mengenai isu tersebut. Langkah itu berpotensi memicu kemarahan Beijing karena pemimpin AS dan Taiwan telah lama tidak melakukan komunikasi langsung secara resmi.
Sebelumnya, Trump pernah berbicara dengan mantan Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, saat dirinya masih berstatus presiden terpilih pada 2016, yang kala itu memicu protes keras dari China.
Ketegangan terkait penjualan senjata juga meningkat setelah Washington menyetujui paket penjualan senjata senilai US$11 miliar kepada Taiwan pada Desember lalu, salah satu yang terbesar dalam sejarah hubungan kedua pihak.
Kementerian Luar Negeri China saat itu memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mempercepat situasi berbahaya dan memicu ketegangan di Selat Taiwan.
Di sisi lain, Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa penjualan senjata dari Amerika Serikat merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan.
Di bawah kepemimpinannya, Taiwan juga meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan militer dari China.
Akbari Danico – Redaksi

