Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa rencana penggunaan compressed natural gas sebagai pengganti LPG 3 kilogram masih berada pada tahap uji coba.
Pemerintah saat ini disebut masih memfokuskan pengujian terhadap desain dan keamanan tabung compressed natural gas ukuran 3 kilogram sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat.
Bahlil menjelaskan bahwa penggunaan compressed natural gas sebenarnya telah diterapkan pada tabung berukuran lebih besar di sektor komersial seperti hotel dan restoran. Namun, penerapan untuk kebutuhan rumah tangga dinilai memerlukan kesiapan teknologi dan standar keamanan yang jauh lebih ketat.
Menurut Bahlil, dorongan pengembangan compressed natural gas muncul akibat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Konsumsi LPG nasional yang mencapai jutaan ton per tahun dinilai membebani negara karena produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan secara penuh.
Kondisi tersebut menyebabkan pemerintah harus mengeluarkan devisa besar sekaligus menanggung subsidi energi dalam jumlah signifikan. Oleh karena itu, pemanfaatan gas bumi domestik melalui compressed natural gas dipandang sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan menekan biaya impor.
Pemerintah juga menilai penggunaan compressed natural gas di sektor tertentu, termasuk dapur program Makan Bergizi Gratis, menunjukkan hasil yang cukup efisien. Meski demikian, tantangan terbesar muncul pada penerapan untuk rumah tangga karena tekanan gas compressed natural gas jauh lebih tinggi dibandingkan LPG. Pemerintah harus memastikan keamanan tabung, sistem distribusi, serta standar penggunaan sebelum program dijalankan secara luas.
Selain itu, pembangunan infrastruktur seperti jaringan distribusi dan stasiun pengisian gas masih membutuhkan investasi besar dan perencanaan yang matang. Sejumlah pengamat energi turut memberikan perhatian terhadap aspek keamanan dan keekonomian program tersebut. Mereka menilai penggunaan compressed natural gas untuk rumah tangga membutuhkan pengawasan ekstra karena risiko keselamatan dapat meningkat apabila pengelolaan tidak dilakukan dengan baik. Biaya pembangunan jaringan distribusi juga dianggap cukup tinggi, terutama di wilayah yang jauh dari sumber gas.
Meski demikian, pemerintah tetap membuka peluang pemberian subsidi agar compressed natural gas dapat diakses masyarakat kecil dengan harga terjangkau apabila nantinya resmi diterapkan.
Alexander Jason – Redaksi

