Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, membantah anggapan bahwa harga beras nasional mengalami kenaikan di tengah melimpahnya stok cadangan beras pemerintah. Ia menegaskan bahwa stok nasional saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton, yang disebut sebagai salah satu capaian terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, pemerintah bersama Bulog terus menjaga stabilitas pasokan melalui penyerapan hasil panen petani dan distribusi ke berbagai daerah. Rizal menilai persepsi kenaikan harga yang berkembang di masyarakat tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nasional karena harga di sejumlah wilayah masih relatif terkendali.
Rizal menjelaskan bahwa tingginya stok beras merupakan hasil dari peningkatan produksi domestik dan strategi penyerapan gabah secara agresif selama musim panen. Pemerintah disebut berupaya memastikan hasil panen petani terserap secara optimal agar harga gabah tidak jatuh di tingkat produsen.
Selain menjaga stabilitas harga, cadangan besar tersebut juga dipersiapkan untuk menghadapi potensi gangguan cuaca, krisis pangan global, maupun lonjakan kebutuhan nasional. Bulog juga terus menjalankan operasi pasar dan distribusi beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan untuk menekan tekanan harga di pasar tradisional maupun ritel modern.
Di sisi lain, Bulog mengusulkan agar sebagian stok beras yang melimpah dapat disalurkan dalam bentuk beras natura kepada aparatur sipil negara, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Usulan ini dinilai sebagai salah satu langkah untuk mempercepat distribusi sekaligus menjaga kualitas beras agar tidak terlalu lama tersimpan di gudang.
Menurut Rizal, skema beras natura pernah diterapkan pada masa lalu dan dianggap efektif dalam mendukung distribusi cadangan pangan pemerintah. Selain membantu pengelolaan stok, kebijakan tersebut juga dipandang dapat memperkuat daya beli penerima manfaat.
Meski Bulog menilai harga relatif stabil, sejumlah pengamat menyebut masyarakat di beberapa daerah masih merasakan kenaikan harga beras akibat distribusi yang belum merata dan tingginya biaya logistik. Faktor lain seperti kualitas panen, panjangnya rantai distribusi, dan dinamika pasar juga dinilai mempengaruhi harga di tingkat konsumen.
Pemerintah sendiri terus berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan daya beli masyarakat agar harga tetap terkendali. Dengan cadangan beras yang besar, pemerintah optimistis dapat menjaga stabilitas harga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan dalam beberapa bulan ke depan.
Alexander Jason – Redaksi

