Metropolitan

Ekonomi Jakarta Tetap Kuat, Tumbuh 5,59 Persen pada Awal 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I 2026 tetap tumbuh kuat sebesar 5,59 persen (yoy), sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,61 persen (yoy).

Dengan kontribusi sebesar 16,67 persen terhadap perekonomian nasional, Jakarta masih menjadi pusat ekonomi terbesar di Indonesia. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kuatnya permintaan domestik, investasi yang terus meningkat, serta kinerja sejumlah sektor unggulan, seperti perdagangan, informasi dan komunikasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menyampaikan bahwa langkah tersebut dilakukan melalui berbagai strategi, antara lain pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), perluasan digitalisasi sistem pembayaran, penguatan investasi dan sektor produktif, serta pengembangan sumber pertumbuhan baru berbasis ekonomi kreatif.

Dalam upaya tersebut, BI DKI Jakarta juga mendorong penguatan ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Jakarta Economic Forum (JEF) dan Jakarta Kreatif Festival (JKF).

Menurut Iwan, inisiatif tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Jakarta sekaligus mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan, sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global yang kompetitif.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan BPS menyebutkan, dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,72 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 5,51 (yoy). Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat sejalan periode long festive season Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri, Imlek, dan Nyepi, serta didukung oleh penyelenggaraan berbagai event besar.

Daya beli masyarakat juga tetap terjaga seiring dengan peningkatan UMP Jakarta, penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), serta dukungan berbagai insentif Pemerintah. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tetap tumbuh positif sebesar 4,71 persen (yoy), didukung oleh berlanjutnya pembangunan berbagai proyek strategis pemerintah dan swasta yang bersifat multitahun.

Sementara itu, konsumsi pemerintah tetap tumbuh positif sebesar 4,22 persen (yoy), meskipun tidak sekuat triwulan sebelumnya (8,60 persen; yoy), seiring masih terbatasnya realisasi belanja daerah pada awal tahun.

Dari sektor eksternal, ekspor barang dan jasa tumbuh 8,98 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,62 persen (yoy), menunjukkan aktivitas perdagangan tetap terjaga di tengah dinamika global.

Dari sisi Lapangan Usaha (LU), perekonomian DKI Jakarta terutama ditopang oleh LU Perdagangan Besar dan Eceran yang tumbuh 6,71 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (6,66 persen; yoy). Kinerja positif ini dipengaruhi meningkatnya konsumsi pada periode long festive season.

Sejalan dengan itu, LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga tumbuh kuat sebesar 10,84 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (8,40 persen; yoy), Pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh LU Informasi dan Komunikasi yang tetap tumbuh kuat sebesar 6,33 persen (yoy), yang mencerminkan tingginya kebutuhan layanan digital, komunikasi, transaksi berbasis aplikasi di Jakarta sebagai pusat bisnis dan jasa.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...