Harga minyak dunia melemah sementara pasar saham menguat, seiring investor mencermati perkembangan pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang dinilai dapat memengaruhi gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.
Harga minyak acuan global Brent crude turun sekitar 0,7% ke level 107 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,9% menjadi 101,2 dolar AS per barel.
Penurunan ini menghentikan reli harga selama tiga hari sebelumnya, di tengah kekhawatiran bahwa peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran semakin menjauh, menurut analis dari Deutsche Bank.
Di sisi lain, pasar saham global menunjukkan penguatan setelah sempat tertekan pada perdagangan sebelumnya, yang dipicu data inflasi AS yang lebih buruk dari perkiraan.
Kontrak berjangka indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq mengindikasikan pembukaan yang lebih kuat, sementara indeks di Eropa juga bergerak positif. Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan memimpin penguatan, meski indeks saham utama Taiwan justru mengalami penurunan.
Analis senior dari Hargreaves Lansdown, Matt Britzman, menyebut pasar saham global mencoba menguat, namun sentimen investor masih tertahan oleh kebuntuan konflik di Timur Tengah.
Ia menambahkan bahwa investor juga memantau pertemuan antara Trump dan Xi Jinping, karena setiap kemajuan dalam hubungan dagang kedua negara dapat menjadi faktor penentu arah sentimen pasar selanjutnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik dan ekonomi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Akbari Danico – Redaksi

