Economy National

Kemenkeu Optimistis Disiplin APBN Mampu Dongkrak Laju Ekonomi RI

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menegaskan pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terjaga melalui pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih disiplin dan terarah.

Dalam forum ekonomi SMBC Indonesia Economic Forum di Jakarta, ia menjelaskan bahwa APBN masih menjadi instrumen utama pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional melalui belanja negara yang mampu mendorong konsumsi dan investasi.

Pemerintah kini menerapkan pola pengeluaran yang lebih terukur agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat maupun pelaku usaha. Langkah ini sekaligus menjadi strategi menghadapi tekanan ekonomi global yang masih membayangi berbagai negara berkembang.

Kementerian Keuangan juga menaruh perhatian besar pada percepatan realisasi belanja negara sejak awal tahun anggaran. Herman menyebut pola lama yang menumpuk pengeluaran di akhir tahun dinilai kurang efektif karena memperlambat efek ganda terhadap perekonomian.

Oleh Karena itu, pemerintah berupaya menjaga ritme konsumsi negara agar lebih merata sepanjang tahun demi menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak stabil. Hingga kuartal pertama 2026, realisasi konsumsi pemerintah telah melampaui 20 persen dari target APBN tahunan, yang dianggap menunjukkan adanya perbaikan disiplin fiskal dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Strategi ini diharapkan mampu mempercepat perputaran uang di sektor riil dan meningkatkan kepercayaan dunia usaha terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Pemerintah menilai percepatan belanja negara mulai memberikan dampak positif terhadap sejumlah sektor strategis.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, informasi dan komunikasi, hingga akomodasi dan makanan-minuman mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang awal tahun. Selain itu, pemerintah optimistis daya beli masyarakat tetap terjaga berkat peningkatan penerimaan pajak serta berbagai stimulus ekonomi yang terus digelontorkan.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 dapat menyentuh sekitar 5,5 persen. Optimisme tersebut didukung peningkatan penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), serta akselerasi belanja negara yang mulai berjalan lebih efektif.

Di sisi lain, kondisi fiskal nasional juga dinilai masih berada dalam jalur aman. Hingga akhir April 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp164,4 triliun atau sekitar 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibanding posisi Maret 2026 yang mencapai 0,93 persen PDB.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa angka tersebut masih sesuai dengan desain APBN 2026 yang menargetkan defisit tahunan sebesar 2,68 persen terhadap PDB. Pemerintah berharap kombinasi disiplin fiskal, percepatan realisasi anggaran, dan peningkatan penerimaan negara dapat menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Melalui strategi tersebut, pemerintah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap kuat sekaligus menjaga kepercayaan investor dan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.

Alexander Jason – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...