Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menggelar rapat koordinasi bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dan Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Arief Anshory Yusuf guna memperkuat digitalisasi bantuan sosial berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Pertemuan tersebut membahas penguatan akurasi penyaluran bantuan sosial melalui pemutakhiran data, pemanfaatan big data, serta penyempurnaan model pemeringkatan penerima manfaat. Langkah itu dilakukan untuk menekan potensi kesalahan penyaluran bantuan sosial, baik kepada masyarakat yang tidak berhak menerima maupun warga yang seharusnya mendapatkan bantuan tetapi belum masuk dalam data penerima.
Menurut Gus Ipul, digitalisasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Instruksi Presiden terkait penguatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional dan percepatan pengentasan kemiskinan.
“Saya ingin hari ini menjadi tahapan dari proses digitalisasi bansos yang berpedoman pada Inpres nomor 4 dan 8 (Tahun 2025). Jadi semua program menggunakan DTSEN karena itu perintah Presiden. Dengan adanya digitalisasi bansos kita gembira menemukan hal mungkin jadi perhatian kita soal bansos tidak tepat sasaran,” kata Gus Ipul.
Ia menyebut seluruh program di Kementerian Sosial kini telah menggunakan DTSEN sebagai basis utama dalam penyaluran bantuan sosial.
Pemerintah optimistis kesinambungan pembaruan data dan proses digitalisasi akan membuat penyaluran bansos semakin akurat, transparan, dan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Kepala BPS Amalia menjelaskan digitalisasi bukan sekadar transformasi teknologi. Tetapi alat bantu untuk mempercepat pemutakhiran DTSEN agar lebih akurat dan tepat sasaran.
BPS tengah menyiapkan penyempurnaan pengukuran kesalahan penyaluran bansos melalui hasil Sensus Ekonomi 2026. Dari sensus tersebut, BPS akan menghitung desil masyarakat secara lebih akurat dan membandingkannya dengan realisasi penyaluran bansos Kemensos.
Selain itu, BPS akan memperkuat model pemeringkatan berbasis variabel hasil Sensus Ekonomi 2026 melalui penyempurnaan variabel dan pemanfaatan big data. Teknologi geotagging, citra satelit, hingga foto kondisi rumah akan digunakan untuk pengolahan model Proxy Means Test (PMT).
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Arief Anshory Yusuf menekankan pentingnya transparansi dan pendekatan ilmiah dalam penyempurnaan model PMT.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

