Pasar keuangan global mengalami tekanan pada Jumat (15/5), ditandai dengan pelemahan saham, lonjakan harga minyak, serta kenaikan imbal hasil obligasi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average turun 425 poin atau sekitar 0,85%, sehingga kembali berada di bawah level psikologis 50.000. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 1% dan Nasdaq turun 1,35%, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi pada perdagangan sehari sebelumnya.
Di pasar energi, harga minyak mentah mengalami kenaikan signifikan. Minyak Brent melonjak sekitar 3% hingga melampaui level 109 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah AS turut naik 3,3% menjadi sekitar 104,50 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak ini turut memicu tekanan di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat seiring kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan inflasi serta kemungkinan bank sentral, termasuk Federal Reserve, akan kembali menaikkan suku bunga.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan bagi suku bunga kredit seperti KPR, naik mendekati 4,57%—level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, obligasi tenor dua tahun naik ke 4,07% dan tenor 30 tahun mencapai 5,11%.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar saham sempat menguat didorong optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi mulai memberikan tekanan baru, karena investor cenderung beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Tren kenaikan imbal hasil juga terjadi secara global, dipicu oleh kombinasi faktor seperti harga energi yang meningkat, belanja pemerintah yang tinggi, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral.
Di Inggris, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 30 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 1998, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah inflasi dan kondisi fiskal.
Ekonom kepala Eropa di Jefferies, Mohit Kumar, menyatakan bahwa suku bunga global terus bergerak naik dalam waktu singkat, didorong oleh kekhawatiran terhadap inflasi dan defisit anggaran yang semakin besar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pasar saham sempat berada dalam tren positif, tekanan dari faktor makroekonomi masih menjadi risiko utama bagi stabilitas pasar keuangan global.
Akbari Danico – Redaksi

