Iran menyatakan telah terjadi kemajuan dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, namun menegaskan bahwa kesepakatan final masih belum akan tercapai dalam waktu dekat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqai, mengatakan sebagian besar isu utama dalam negosiasi telah mencapai titik kesepahaman. Meski begitu, ia menilai terlalu dini untuk menyebut kesepakatan segera ditandatangani.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan kesepakatan dengan Iran kemungkinan bisa tercapai dalam waktu dekat.
Menurut sejumlah laporan, nota kesepahaman yang sedang dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta kelanjutan negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya juga memberi sinyal bahwa kedua pihak semakin dekat dengan kesepakatan, meski ia menegaskan tim negosiator AS tidak perlu terburu-buru.
Pada hari ini, Senin (25/5), Rubio mengatakan bahwa Washington sebenarnya berharap mendapat perkembangan baru sehari sebelumnya, namun komunikasi dengan pihak Iran disebut membutuhkan waktu lebih lama.
Media AS melaporkan intelijen Amerika meyakini Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, saat ini berada di lokasi rahasia setelah terluka dalam serangan Israel pada awal perang yang juga menewaskan ayah sekaligus pendahulunya. Kondisi itu disebut membuat komunikasi dengan para utusannya menjadi lebih sulit dan memperlambat proses negosiasi.
Menurut laporan media AS, kesepakatan yang sedang dibahas bukan penyelesaian akhir. Sejumlah isu sensitif seperti pencabutan sanksi terhadap Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta pembatasan program nuklir Teheran masih akan dinegosiasikan lebih lanjut.
Salah satu poin utama pembicaraan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia dan sebelumnya diblokade Iran selama konflik berlangsung.
Harapan tercapainya kesepakatan membuat harga minyak dunia turun tajam, sementara pasar saham Asia mengalami penguatan pada perdagangan Senin.
Meski demikian, rencana kesepakatan itu memicu perpecahan di internal Partai Republik AS. Senator Ted Cruzmenyebutnya sebagai “kesalahan besar”, sementara Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker, menilai gencatan senjata 60 hari akan membuat operasi militer AS-Israel terhadap Iran menjadi sia-sia.
Senator Lindsey Graham, yang dikenal dekat dengan Trump, juga mengkritik setiap kesepakatan yang masih membuat Iran terlihat dominan di kawasan.
Menanggapi kritik tersebut, Donald Trump menyebut para penentangnya sebagai “pecundang” dan menegaskan bahwa kesepakatan dengan Iran harus menjadi kesepakatan yang kuat dan bermakna, atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali.
Meski peluang kesepakatan mulai terbuka, sejumlah analis memperkirakan dampaknya terhadap industri pelayaran dan rantai pasok global tidak akan langsung terasa.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran sendiri mulai memanas sejak serangan besar-besaran Washington dan Tel Aviv terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk serta memblokade Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Trump sebelumnya menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan sampai tercapai kesepakatan resmi yang disahkan dan ditandatangani kedua pihak.
Di sisi lain, Iran terus menegaskan program nuklirnya hanya bertujuan damai. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan Teheran siap meyakinkan dunia bahwa negaranya tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Akbari Danico – Redaksi

