Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti peran penting puskesmas pembantu dalam menangani persoalan kesehatan di wilayah Rukun Warga (RW) kumuh di ibu kota.
“Puskesmas-puskesmas pembantu seperti inilah yang juga nanti akan berperan serta untuk lebih menurunkan lagi persoalan yang ada di RW kumuh di Jakarta, karena saya ingin Jakarta semakin baik, semakin bersih,” ungkap Pramono di Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II, Senin (18/05).
Sebagai informasi, penetapan status kumuh pada tingkat RW didasarkan sejumlah indikator, mulai dari kepadatan penduduk dan bangunan, kondisi konstruksi bangunan rumah, ventilasi dan pencahayaan, ketersediaan fasilitas sanitasi, pengelolaan sampah, sistem pengangkutan, kondisi saluran air, infrastruktur jalan lingkungan, penerangan jalan umum, dan tata letak bangunan.
Dengan demikian, keberadaan puskesmas pembantu dinilai turut mendukung penanganan masalah kesehatan masyarakat di kawasan RW kumuh.
Sebelumnya, Pramono menyampaikan adanya penurunan jumlah RW berstatus kumuh di Jakarta berdasarkan pendataan bersama Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah RW kumuh tercatat turun menjadi 211 dari sebelumnya 445 pada 2017, atau mengalami penurunan sekitar 52,58 persen.
Pramono meminta jajarannya untuk lebih mendalami hasil pendataan tersebut guna memperbaiki kehidupan masyarakat Jakarta secara menyeluruh.
“Walaupun nanti ada 1.900 yang sebelumnya dianggap sudah tidak kumuh, tetapi saya juga setuju untuk lebih diperdalam,” ujar Pramono.
Monika Putri Setiarini – Redaksi

