Nilai tukar rupiah pada Selasa (5/5) dibuka sedikit terdepresiasi ke level 17.420 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, di balik tekanan tersebut, pelemahan rupiah dinilai masih dalam batas wajar dan relatif lebih moderat dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa pergerakan rupiah sejauh ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market sejak awal konflik di Timur Tengah.
Ia memaparkan, sejumlah mata uang lain justru mengalami pelemahan yang lebih dalam. Peso Filipina tercatat melemah 6,58 persen, Baht Thailand turun 5,04 persen, Rupee India terkoreksi 4,32 persen, Peso Chile melemah 4,24 persen, sedangkan Rupiah berada di kisaran pelemahan 3,65 persen.
Adapun won Korea mencatat pelemahan lebih rendah, yakni 2,29 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa meski rupiah kini berada di kisaran 17.400 per dolar AS, tekanan yang terjadi masih tergolong moderat dan tidak sebesar yang dialami sejumlah negara di kawasan maupun global.
Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menegaskan, langkah-langkah tersebut ditempuh secara konsisten dan terukur agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan nilai tukar rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi domestik.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

