Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit. Salah satunya, AL-Jabbar (12) yang berasal dari Duren Sawit, Jakarta Timur. Ia akhirnya dapat merasakan bangku sekolah dan mengeyam pendidikan.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengatakan Al-Jabbar menjadi salah satu calon siswa Sekolah Rakyat bersama ratusan anak lain dari keluarga kurang mampu yang masuk dalam kelompok masyarakat miskin desil 1 dan 2.
Kondisi Al-Jabbar diketahui setelah ia menyampaikan langsung pengalamannya kepada Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, saat berkunjung ke Istana Negara. Anak tersebut mengaku belum pernah bersekolah meski telah berusia 12 tahun.
Sebagai informasi, Al-Jabbar tinggal bersama ibu tunggal dan seorang adiknya setelah ayahnya meninggal dunia. Keluarganya diketahui hidup dalam kondisi ekonomi sulit dan masih menumpang tempat tinggal. Selain membantu menjaga adiknya, Al juga berharap sang adik dapat terus melanjutkan pendidikan.
Pemerintah melalui program Sekolah Rakyat menargetkan pemutusan rantai kemiskinan melalui akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Pada tahap awal pelaksanaan tahun 2025, program tersebut telah menampung lebih dari 15 ribu siswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Kementerian Sosial mencatat sebagian besar keluarga siswa Sekolah Rakyat berada dalam kondisi ekonomi rendah. Sebanyak 67 % orang tua siswa memiliki penghasilan di bawah Rp1 juta per bulan, sementara mayoritas keluarga memiliki tanggungan lebih dari tiga anggota keluarga.
Selain itu, terdapat 454 siswa yang belum pernah bersekolah dan 298 siswa lainnya tercatat putus sekolah. Sebagian dari mereka juga telah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Pemerintah menargetkan jumlah peserta Sekolah Rakyat mencapai 46 ribu siswa pada 2026. Jumlah tersebut direncanakan meningkat menjadi 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028.
Clarisa Renata – Redaksi

