Serangan drone dan rudal Rusia di Ukraina dilaporkan menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai puluhan lainnya dalam 24 jam terakhir, di tengah intensitas serangan udara yang terus meningkat di berbagai wilayah.
Pejabat di sedikitnya lima wilayah melaporkan adanya korban jiwa, saat Rusia kembali menargetkan kota-kota Ukraina melalui serangan udara secara berkala.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa sebuah terminal minyak di wilayah barat laut Rusia mengalami kerusakan signifikan akibat serangan balasan. Ia juga mengungkapkan bahwa dua kapal tanker minyak Rusia dihantam di dekat pelabuhan Laut Hitam Novorossiysk.
Meski belum ada rincian kerusakan pada kapal, Zelensky menyebut tanker tersebut merupakan bagian dari “armada bayangan” Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi Barat.
Militer Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan satu rudal balistik dan hampir 270 drone dalam serangan terbaru, namun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Korban jiwa dilaporkan tersebar di berbagai wilayah, termasuk Kherson, Odesa, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Sumy, dengan jumlah korban berbeda di masing-masing daerah.
Sementara itu, Rusia mengklaim Ukraina telah meluncurkan sedikitnya 334 drone, dengan wilayah barat laut seperti Leningrad Oblast menjadi salah satu target utama.
Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina memang meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, termasuk terminal ekspor minyak, yang diklaim telah menyebabkan kerugian miliaran dolar.
Zelensky juga menyebut terminal Primorsk di wilayah Leningrad mengalami kerusakan besar, termasuk tiga kapal yang berada di lokasi tersebut. Selain itu, dua tanker lainnya dilaporkan terkena serangan drone di pintu masuk pelabuhan Novorossiysk.
Menurutnya, kapal-kapal tersebut sebelumnya активно digunakan untuk mengangkut minyak, namun kini tidak lagi dapat beroperasi.
Pemerintah Rusia cenderung meremehkan dampak serangan tersebut, namun kekhawatiran terlihat dari langkah Kremlin yang mengurangi skala parade militer tahunan untuk memperingati Victory in Europe Day pada 9 Mei, dengan alasan ancaman keamanan dari Ukraina.
Langkah ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kemampuan serangan jarak jauh Ukraina yang kini mampu menjangkau wilayah dalam Rusia.
Akbari Danico – Redaksi

