World

WHO Naikkan Status Risiko Wabah Ebola di DR Kongo Jadi “Sangat Tinggi”

World Health Organization (WHO) meningkatkan tingkat risiko kesehatan masyarakat akibat wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo dari “tinggi” menjadi “sangat tinggi”.

Dalam pembaruan situasi pada Jumat (22/5), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan risiko penyebaran di tingkat regional Afrika saat ini berada pada level “tinggi”, sementara risiko global masih tergolong “rendah”.

Wabah yang saat ini berpusat di DR Kongo disebabkan oleh jenis langka virus Ebola bernama Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin terbukti efektif. Virus tersebut diketahui memiliki tingkat kematian sekitar sepertiga dari total pasien yang terinfeksi.

Sejauh ini, wabah tersebut telah menyebabkan 177 kematian suspek dan sekitar 750 kasus suspek di berbagai wilayah terdampak. Di tengah situasi tersebut, para ilmuwan di University of Oxford, Inggris, tengah mengembangkan vaksin baru yang diperkirakan dapat memasuki tahap uji klinis dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Meski demikian, para peneliti menegaskan belum ada jaminan vaksin tersebut akan efektif. Pengujian pada hewan dan manusia masih diperlukan untuk memastikan tingkat keamanan dan efektivitasnya.

Selain proyek vaksin di Inggris, vaksin eksperimental lain untuk virus Bundibugyo juga sedang dikembangkan. Namun WHO memperkirakan diperlukan waktu sekitar enam hingga sembilan bulan sebelum vaksin tersebut siap diuji.

Dalam konferensi pers di Jenewa, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan WHO kini merevisi penilaian risikonya menjadi “sangat tinggi” di tingkat nasional, “tinggi” di tingkat regional, dan “rendah” secara global. Ia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini terdapat 82 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi di DR Kongo, dengan tujuh kematian terkonfirmasi.

Sementara itu, situasi di Uganda disebut masih stabil meski negara tersebut telah melaporkan dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian akibat virus Bundibugyo. Kedua kasus diketahui berasal dari individu yang melakukan perjalanan dari DR Kongo.

Ebola merupakan penyakit langka namun mematikan yang disebabkan oleh virus. Meski jenis Bundibugyo dinilai tidak semematikan beberapa varian Ebola lainnya, kelangkaannya membuat dunia medis memiliki keterbatasan alat maupun metode penanganan.

Virus Ebola pada umumnya berasal dari hewan, terutama kelelawar buah. Wabah pada manusia dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi atau menangani hewan yang terinfeksi.

Sebelumnya pada Minggu (17/5), WHO telah menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, meski belum mencapai level pandemi global.

Dalam kesempatan yang sama, Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan pentingnya membangun kepercayaan masyarakat dalam proses penanganan wabah. Ia memperingatkan bahwa kekerasan dan kondisi keamanan yang tidak stabil di wilayah konflik di DR Kongo turut menghambat respons terhadap penyebaran Ebola.

Pernyataan tersebut muncul setelah kerabat pasien membakar sebuah rumah sakit di wilayah timur DR Kongo karena petugas medis menolak menyerahkan jenazah pasien akibat risiko kontaminasi virus.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...