World

AS Serang Target Iran, Teheran Balas dengan Rudal dan Drone ke Kawasan Teluk

 

Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan serangan yang disebut sebagai aksi “bela diri” terhadap Iran pada Rabu (3/5) dini hari. Dalam operasi tersebut, pasukan AS juga mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal balistik dan drone yang ditembakkan Iran ke arah kapal-kapal serta negara-negara kawasan Teluk.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan di Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz sebagai respons atas upaya serangan Iran di berbagai wilayah Timur Tengah. Target utama operasi tersebut adalah stasiun kendali militer Iran yang digunakan untuk mengoperasikan drone.

Sebagai balasan, Iran mengaku menyerang pangkalan militer dan helikopter Amerika Serikat di sebuah negara kawasan menggunakan rudal dan drone. Menurut CENTCOM, Teheran menembakkan dua rudal ke Kuwait dan tiga rudal ke Bahrain, namun seluruhnya berhasil dicegat atau hancur sebelum mencapai sasaran.

Ketegangan semakin meningkat setelah militer Kuwait mengungkap bahwa beberapa drone Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah bangunan dan mengakibatkan beberapa orang mengalami luka-luka.

Otoritas Kuwait langsung menghentikan sementara seluruh aktivitas penerbangan pada Rabu pagi. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Brigjen Saud Abdulaziz Al-Otaibi, menyebut serangan itu sebagai “agresi kriminal Iran”, sembari memastikan para korban telah mendapatkan perawatan medis.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu keamanan Selat Hormuz akan dibayar mahal oleh militer Amerika Serikat. Iran juga menuduh serangan AS sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang masih dalam tahap negosiasi.

Sebelumnya, AS juga mengumumkan telah melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Botswana yang berlayar menuju Iran sebagai bagian dari blokade laut di Selat Hormuz. Kapal tersebut disebut mengabaikan sejumlah peringatan dari militer AS sebelum akhirnya ditembak menggunakan rudal Hellfire yang menghantam ruang mesinnya.

Menurut CENTCOM, sejak blokade diberlakukan pada 13 April lalu, enam kapal komersial telah dilumpuhkan dan 122 kapal lainnya dipaksa mengubah rute pelayaran. Pemerintah Botswana sendiri belum memberikan tanggapan terkait insiden tersebut.

Situasi ini terjadi di tengah mandeknya negosiasi antara Washington dan Teheran mengenai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Laporan media AS menyebut Presiden Donald Trump meminta perubahan terhadap rancangan kesepakatan, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan penanganan uranium yang diperkaya Iran.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah isu tersebut. Ia menuduh Amerika Serikat terus mengubah posisi dan mengajukan tuntutan baru yang saling bertentangan sehingga memperlambat proses perundingan.

Di hadapan Kongres AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menegaskan bahwa Washington tidak menawarkan pencabutan sanksi sebagai imbalan pembukaan kembali Selat Hormuz. Menurutnya, setiap pelonggaran sanksi hanya dapat dilakukan jika Iran memenuhi syarat yang berkaitan dengan program nuklirnya.

Meski situasi kembali memanas, Rubio tetap menegaskan bahwa perang telah berakhir dan pemerintah AS masih berupaya mencari jalan untuk mengakhiri konflik secara permanen melalui jalur diplomasi.

Akbari Danico – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...