Ketegangan di Lebanon kembali meningkat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan ke wilayah selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah. Israel menyebut operasi tersebut sebagai respons atas serangan roket dan drone Hezbollah serta berbagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu.
Tak lama setelah pengumuman itu, ribuan warga mulai meninggalkan kawasan selatan Beirut. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan yang membawa keluarga beserta barang-barang mereka untuk mencari tempat yang lebih aman di tengah kekhawatiran akan serangan lanjutan.
Pemerintah Lebanon mengatakan pihaknya masih mengandalkan mediasi Amerika Serikat untuk menekan Israel agar menghentikan pelanggaran gencatan senjata dan mencegah bertambahnya korban sipil. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengusulkan langkah deeskalasi bertahap kepada Israel dan Lebanon guna meredakan konflik.
Dalam pernyataan bersama, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel menegaskan bahwa serangan dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran berulang yang dilakukan Hezbollah terhadap kesepakatan gencatan senjata. Meski belum ada perintah evakuasi resmi dari militer Israel, banyak warga memilih mengungsi lebih awal demi menghindari risiko serangan.
Sejak gencatan senjata berlaku pada 16 April, Israel tercatat telah dua kali menyerang Beirut. Namun frekuensi serangan tersebut jauh berkurang dibandingkan sebelumnya, seiring upaya Washington yang berusaha mencegah konflik meluas dan mengganggu proses diplomasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Konflik ini bermula ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel pada 2 Maret sebagai balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran dan operasi darat di Lebanon selatan yang hingga kini masih berlangsung.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.400 orang telah tewas sejak konflik pecah. Sementara itu, Israel melaporkan 24 tentaranya dan empat warga sipil juga menjadi korban selama pertempuran berlangsung.
Situasi semakin memanas setelah pasukan Israel berhasil merebut Beaufort Castle, benteng bersejarah berusia sekitar 900 tahun di Lebanon selatan. Israel menilai lokasi tersebut memiliki nilai strategis karena memberikan keuntungan pengawasan terhadap wilayah perbatasan.
Meski menghadapi tekanan militer yang semakin besar, Hezbollah masih mampu melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel. Hingga kini, berbagai upaya diplomatik untuk menghentikan pertempuran belum menunjukkan hasil signifikan, sementara kekhawatiran akan meluasnya konflik terus meningkat.
Akbari Danico – Redaksi

