Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Whisnu Bahriansyah, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transisi energi melalui strategi dual growth strategy. Strategi tersebut menggabungkan penguatan bisnis inti minyak dan gas dengan pengembangan bisnis rendah karbon yang berkelanjutan.
Komitmen ini juga disampaikan kepada Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, saat mengunjungi booth PHE dalam ajang IPA Convex 2026 di Tangerang. Sebagai pemain utama sektor hulu migas, PHE saat ini berkontribusi sekitar 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 37 persen terhadap produksi gas nasional.
Dalam operasionalnya sepanjang 2025, PHE mencatat produksi minyak sebesar 556 ribu barel per hari dan produksi gas mencapai 2,75 miliar standar kaki kubik per hari. Kinerja tersebut didukung oleh ratusan pengeboran sumur pengembangan, kegiatan workover, serta layanan sumur yang masif.
Menurut Whisnu, perusahaan menerapkan pendekatan manajemen risiko yang adaptif dan terintegrasi untuk memastikan transformasi bisnis tetap mendukung ketahanan energi nasional. Langkah ini juga diarahkan untuk menciptakan nilai jangka panjang di tengah perubahan lanskap energi global.
Di bidang keberlanjutan, PHE mempertahankan peringkat MSCI ESG “BBB”, menjalankan lebih dari 808 program tanggung jawab sosial perusahaan, serta mencatat pengurangan emisi karbon lebih dari 1,6 juta ton CO2e. Perusahaan juga mengembangkan berbagai proyek carbon capture and storage (CCS) serta carbon capture, utilization, and storage (CCUS) bersama mitra global, dengan target kapasitas penyimpanan karbon mencapai 7,3 gigaton hingga 2030.
Sejumlah pencapaian strategis turut diraih, termasuk proyek injeksi CO2 Sukowati, penemuan sumber daya baru di Tedong, serta pengembangan berbagai lapangan migas dan teknologi enhanced oil recovery. Berbagai proyek tersebut memperkuat upaya perusahaan dalam menjaga produksi sekaligus mendukung target pengurangan emisi.
Memasuki 2026 dan tahun-tahun berikutnya, PHE menyiapkan sejumlah proyek strategis seperti pengembangan Blok Lavender di Laut Natuna Timur, eksplorasi laut dalam Natuna Timur, serta pengembangan migas nonkonvensional di Wilayah Kerja Rokan. Perusahaan juga mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung operasi pengeboran, pengelolaan aset, dan pengembangan subsurface yang lebih efisien.
Selain itu, proyek CCS Asri Basin menjadi salah satu fokus utama dengan potensi penyimpanan karbon hingga 2,9 gigaton. Melalui berbagai inisiatif tersebut, PHE berupaya menjaga keseimbangan antara ketahanan energi nasional dan percepatan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Alexander Jason – Redaksi

