Victor Wembanyama, menjalani program latihan yang tidak biasa selama libur musim panas dengan menghabiskan dua pekan bersama para biksu Shaolin di pegunungan Tiongkok.
Dalam laporan yang dibagikan oleh Ramona Shelburne, Wembanyama mengikuti berbagai aktivitas fisik dan mental yang dirancang untuk meningkatkan fokus, ketahanan mental, serta kesadaran diri. Salah satu tantangan terberat yang ia jalani adalah meditasi bersama sekitar 100 biksu setiap hari. Durasi meditasi ditentukan oleh pembakaran dupa, yang terkadang berlangsung hingga 90 menit tanpa henti.
Selain meditasi, Wembanyama juga menjalani pendakian malam dalam kondisi gelap gulita menuju Gua Bodhidharma. Menurut Guru Yan’an, tujuan latihan tersebut adalah mengajarkan seseorang untuk mengatasi rasa takut dan mempercayai kesadaran dirinya sendiri dalam menghadapi ketidakpastian.
Pemain berpostur 224 sentimeter itu juga menghabiskan enam hingga delapan jam setiap hari mempelajari berbagai gerakan dasar kung fu Shaolin. Program latihan yang dirancang khusus untuknya berfokus pada keseimbangan tubuh, pengendalian pusat gravitasi, serta kemampuan menghasilkan tenaga dari berbagai posisi, yang dianggap relevan dengan tantangan fisik yang dihadapinya di NBA.
Salah satu momen paling mencolok terjadi ketika Wembanyama diminta menggiring bola basket sambil mendaki jalur pegunungan menuju Biara Sanhuangzhai. Rute tersebut melewati tebing, jembatan gantung, dan jalur berbatu dengan kenaikan elevasi sekitar 2.500 kaki. Jika rata-rata orang membutuhkan tujuh hingga delapan jam untuk menyelesaikannya, Wembanyama berhasil menuntaskan tantangan tersebut hanya dalam waktu empat setengah jam sambil terus menggiring bola.
Selama berada di kuil, Wembanyama juga mengikuti pola makan vegetarian ketat seperti para biksu sesuai prinsip Buddha. Namun, untuk menjaga kebutuhan nutrisi sebagai atlet profesional, timnya beberapa kali mengatur pengantaran makanan tinggi protein dari restoran lokal yang dikonsumsi di luar area kuil sebelum ia kembali melanjutkan aktivitas bersama para biksu.
Program unik tersebut menunjukkan bagaimana Wembanyama terus mencari cara baru untuk mengembangkan dirinya, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental.
Pendekatan yang tidak lazim ini semakin memperlihatkan komitmennya untuk menjadi pemain terbaik dan menghadapi tekanan kompetisi NBA dengan persiapan yang berbeda dari kebanyakan atlet lainnya.
Akbari Danico – Redaksi

