Gianni Infantino dikabarkan menghadapi tantangan dalam upayanya untuk kembali terpilih sebagai Presiden FIFA untuk masa jabatan ketiga. Menurut laporan jurnalis Ben Jacobs, sejumlah federasi sepak bola di bawah naungan UEFA mulai mendorong munculnya kandidat alternatif yang dapat menantang posisi petahana.
Dilansir dari Ben Jacobs, Infantino sebenarnya berharap dapat kembali terpilih tanpa memiliki pesaing dalam pemilihan mendatang. Namun, sejumlah federasi Eropa mulai membahas kemungkinan mengusung figur lain sebagai calon presiden FIFA.
Salah satu nama yang sempat disebut adalah Presiden UEFA, Alexander Čeferin. Meski dinilai sebagai sosok yang paling memenuhi syarat untuk memimpin FIFA, Čeferin dikabarkan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya di UEFA dan tidak ingin berhadapan langsung dengan Infantino dalam pemilihan nanti.
Nama lain yang juga muncul adalah Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi. Menurut laporan Ben Jacobs, beberapa federasi UEFA, termasuk Belgia dan Polandia, memberikan dukungan terhadap Al-Khelaifi. Meski demikian, pria asal Qatar tersebut disebut belum memiliki ambisi untuk mencalonkan diri dan hanya akan mempertimbangkan langkah tersebut apabila mendapat dorongan yang sangat kuat.
Selain itu, pemilik Legia Warsaw, Dariusz Mioduski, juga mulai masuk dalam pembahasan sejumlah federasi Eropa seperti Bosnia dan Herzegovina, Norwegia, Swedia, Jerman, serta Spanyol. Polandia bahkan dikabarkan siap mengalihkan dukungannya kepada Mioduski apabila Al-Khelaifi memutuskan tidak maju sebagai kandidat.
Meski demikian, posisi Infantino masih dinilai sangat kuat. Dilansir dari Ben Jacobs, sejumlah kebijakan besarnya, termasuk rencana memperluas jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim serta pelaksanaan format baru FIFA Club World Cup, mendapat dukungan luas dari konfederasi Afrika (CAF), Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), serta Asia (AFC).
Dengan dukungan mayoritas dari luar Eropa, peluang Gianni Infantino untuk mempertahankan jabatannya masih terbuka lebar. Kondisi tersebut membuat UEFA diperkirakan akan menghadapi tantangan besar apabila ingin membangun koalisi yang cukup kuat untuk menghadirkan perubahan dalam pemilihan Presiden FIFA mendatang.
Akbari Danico – Redaksi

