Pemerintah memastikan 60 persen produksi gas dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara proyek senilai Rp340 triliun ini menjadi pionir penerapan teknologi penangkapan karbon.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pembangunan proyek LNG Abadi Blok Masela menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan proyek lepas pantai terbesar dalam sejarah Indonesia itu dirancang tidak hanya untuk menjamin pasokan energi nasional, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Keberhasilan sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi, tetapi juga dari sejauh mana proyek tersebut mampu menghadirkan kesejahteraan nyata bagi masyarakat,” kata Dwi Anggia dalam keterangan resmi, Rabu (29/7).
Proyek LNG Abadi Blok Masela yang resmi diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada 16 Juli 2026 ini mencatatkan nilai investasi fantastis mencapai USD20,9 miliar atau sekitar Rp340 triliun. Fasilitas ini diproyeksikan bakal menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas pipa per hari, serta 35.000 barel kondensat per hari.
Untuk memastikan manfaat sumber daya alam dirasakan masyarakat, pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen dari total produksi LNG Abadi Blok Masela harus dialokasikan bagi kebutuhan domestik. Pasokan tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai sektor strategis nasional, termasuk industri pupuk dan pembangkit listrik.
Selain memperkuat ketahanan energi, proyek ini juga menjadi tonggak baru dalam transisi menuju energi yang lebih bersih. LNG Abadi Blok Masela menjadi salah satu proyek pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak tahap produksi guna menekan emisi karbon.
Dari sisi ekonomi, proyek tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 12.000 tenaga kerja selama tahap pengembangan dan operasional. Pemerintah berharap keberadaan proyek ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri gas alam di kawasan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

