Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerukan penguatan kerja sama antarnegara di kawasan untuk memulihkan stabilitas di Selat Hormuz. Menurutnya, diplomasi regional perlu diperkuat guna meredakan ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut, sembari menuding agresi Amerika Serikat sebagai penyebab utama meningkatnya instabilitas.
Seruan tersebut disampaikan dalam pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan. Kedua pembicaraan juga membahas hubungan bilateral serta perkembangan situasi keamanan terbaru di kawasan.
Araghchi menegaskan bahwa negara-negara regional perlu meningkatkan koordinasi untuk menciptakan stabilitas yang berkelanjutan di Selat Hormuz. Menurut organisasinya, ketegangan di kawasan dipicu oleh tindakan militer Amerika Serikat, sehingga penyelesaiannya memerlukan pendekatan diplomatik yang lebih kuat.
Meski kawasan relatif tenang sejak penghentian serangan antara Iran dan Amerika Serikat pada 11 Juli, situasi tetap dinilai rapuh akibat konflik yang sempat berlangsung selama 13 hari. Dalam periode tersebut, kedua negara saling melancarkan serangan terhadap sasaran militer masing-masing.
Konflik kembali memanas meskipun sebelumnya telah tercapai nota kesepahaman yang mengatur penghentian pertempuran dan pembukaan jalur perundingan untuk mengakhiri perang yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan gencatan senjata berakhir setelah terjadi serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz yang dituduhkan kepada Iran.
Washington kemudian menuntut Teheran menghentikan serangan terhadap kapal dagang serta menjamin kebebasan pelayaran di kawasan tersebut. Sebaliknya, Iran menegaskan bahwa lalu lintas kapal di perairan yang berbatasan dengan wilayahnya harus diatur melalui mekanisme yang berada di bawah pengawasannya.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz masih menjadi titik sensitif dalam dinamika keamanan Timur Tengah. Iran terus mendorong penyelesaian melalui kerja sama regional, sementara Amerika Serikat tetap menekankan kebebasan navigasi internasional sebagai prioritas.
Ketegangan di kawasan itu juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Kondisi tersebut membuat perkembangan diplomatik di kawasan akan terus menjadi perhatian masyarakat internasional.
Alexander Jason – Redaksi

