Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmennya memberantas praktik penggelembungan harga (markup) dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Menurutnya, penutupan celah kebocoran anggaran menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan keuangan negara bagi program-program yang langsung menyentuh masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato pada puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (24/7) malam.
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktik markup yang masih terjadi dalam pengadaan barang dan jasa di berbagai lembaga pemerintah. Ia menilai praktik tersebut menjadi salah satu penyebab utama kebocoran anggaran negara.
Prabowo memaparkan, nilai pengadaan barang dan jasa pemerintah diperkirakan mencapai 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.700 triliun. Apabila terjadi kebocoran hingga 30 persen akibat praktik markup dan penyimpangan lainnya, potensi kerugian negara dapat melampaui Rp1.000 triliun.
Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk memperketat tata kelola pengadaan agar anggaran negara dapat digunakan secara lebih efektif dan tepat sasaran. Prabowo juga mengklaim upaya pengetatan tersebut telah menghasilkan penghematan anggaran sekitar Rp300 triliun dalam beberapa bulan pertama pemerintahannya.
Menurutnya, dana hasil efisiensi tersebut tidak disimpan, melainkan langsung dialokasikan untuk membiayai berbagai program prioritas pemerintah.
Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak di seluruh Indonesia. Selain itu, anggaran tersebut juga digunakan untuk pembangunan infrastruktur kerakyatan, termasuk target pembangunan 5.000 jembatan yang ditargetkan rampung hingga akhir 2026.
Prabowo menegaskan pemerintah akan terus memperkuat pengawasan terhadap pengadaan barang dan jasa guna memastikan setiap rupiah uang negara dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

