Program Magang Nasional tak hanya menjadi jembatan bagi lulusan baru untuk memasuki dunia kerja. Lebih dari itu, program ini mulai membuka peluang yang lebih inklusif dengan memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk membuktikan kemampuan mereka hingga akhirnya berhasil diterima bekerja.
Salah satu Kisah Rizky menjadi salah satu gambaran nyata dari hadirnya kesempatan tersebut. Di hadapan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, Rizky yang merupakan peserta magang penyandang disabilitas menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah.
Bagi Teddy, cerita Rizky menunjukkan bahwa Program Magang Nasional bukan sekadar tempat belajar, melainkan jalur nyata menuju dunia kerja yang lebih inklusif dengan memastikan setiap orang merasa dihargai dan memiliki hak yang sama.
Menurutnya, pemerintah memang merancang program ini agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lulusan perguruan tinggi, tetapi juga menjangkau kelompok yang selama ini kerap menghadapi tantangan lebih besar dalam memperoleh pekerjaan, termasuk penyandang disabilitas.
Teddy menjelaskan, Program Magang Nasional dapat menjadi peluang besar bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja sekaligus penghasilan. Peserta magang akan ditempatkan di berbagai perusahaan selama enam bulan.
Selama mengikuti program, mereka akan menerima pendapatan sesuai Upah Minimum Kabupaten,Kota (UMK) di daerah penempatan, dengan kisaran Rp3,5 juta hingga Rp6 juta per bulan. Selain menerima penghasilan, lanjut Teddy, peserta juga akan mendapatkan pendampingan dari mentor di perusahaan agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, keberhasilan program mulai terlihat dari capaian angkatan pertama. Dari lebih dari 102 ribu peserta magang, sekitar 30 persen direkrut menjadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang.
Melihat hasil tersebut, Teddy mengatakan pemerintah telah meningkatkan target peserta pada tahun ini menjadi 150 ribu orang. Program ini juga didukung semakin banyak perusahaan mitra. Pada angkatan pertama, sekitar 8.800 perusahaan dari kalangan BUMN maupun swasta terlibat dalam pelaksanaan program.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

