El Nino 2026 diperkirakan memberi tekanan besar terhadap musim kemarau di Indonesia dengan potensi berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah.
BMKG menyebut fenomena iklim tersebut telah berada pada kategori kuat dan diprediksi berlangsung selama sembilan hingga dua belas bulan.
Meski demikian, dampak El Nino tidak terjadi sepanjang tahun karena pengaruh terbesarnya muncul saat bersamaan dengan musim kemarau.
BMKG menilai periode paling kritis diperkirakan berlangsung mulai Juli hingga Oktober 2026. Pada rentang waktu itu, beberapa wilayah diproyeksikan menerima curah hujan lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan di berbagai daerah yang memasuki puncak musim kemarau.
Kepala BMKG,Teuku Faisal Fathani, menjelaskan masyarakat tidak perlu menganggap El Nino identik dengan kemarau sepanjang tahun.
BMKG menerangkan El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Fenomena tersebut mampu memperkuat kondisi kering apabila berlangsung bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia.
Selain mengurangi curah hujan, El Nino berpotensi menekan ketersediaan air di sejumlah wilayah. Ancaman kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat akibat kondisi vegetasi yang semakin kering.
Dampak lanjutan dapat berupa penurunan kualitas udara yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Sektor pertanian turut menghadapi risiko akibat berkurangnya pasokan air selama musim tanam. Gangguan pertumbuhan tanaman hingga penurunan hasil panen menjadi ancaman yang perlu diantisipasi. BMKG meminta seluruh pihak memperkuat langkah mitigasi sejak dini.
Tercatat, 7 Wilayah yang Diprediksi Paling Terdampak El Nino 2026. Yakni, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sebagian Sumatera Bagian Selatan, Kalimantan Bagian Selatan, Sulawesi, dan Papua Bagian Selatan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

