Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada gula konsumsi atau gula kristal putih pada 2026. Capaian tersebut terealisasi lebih cepat dari target pemerintah yang sebelumnya dipatok pada 2027.
Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan Abdul Roni Angkat mengatakan percepatan tersebut didukung program bongkar ratoon plus, yakni peremajaan tanaman tebu yang sudah tua dengan menggantinya menggunakan bibit baru.
Menurutnya, pada 2025 pemerintah merencanakan swasembada gula konsumsi bisa dicapai dalam dua tahun yakni 2027. Namun, dengan berbagai langkah dilakukan akhirnya bisa maju ke tahun ini.
Roni menjelaskan bahwa produksi gula konsumsi nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 3,018 juta ton. Jumlah tersebut telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada di kisaran 2,84 juta ton per tahun.
“Artinya kita surplus. Artinya program bongkar ratoon yang sudah kita jalankan tahun 2025 sampai sekarang, 2026, kita targetnya 130 ribu hektare selesai,” jelas Roni.
Untuk meningkatkan produksi, pemerintah menyiapkan sejumlah dukungan bagi petani tebu. Di antaranya penyediaan benih unggul, subsidi pupuk ZA, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp500 juta, serta pelibatan asosiasi dan industri gula sebagai pembeli hasil produksi petani
Meski produksi gula konsumsi telah melampaui kebutuhan, peningkatan produksi ke depan dinilai akan tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku tebu.
Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Dyan Garneta mengatakan kapasitas industri gula nasional sebenarnya masih mencukupi untuk mengolah tambahan produksi tebu. Saat ini terdapat sekitar 59 pabrik gula aktif yang menggiling tebu dari petani dengan total kapasitas produksi sekitar 4 juta ton.
Dengan produksi gula konsumsi yang ditaksir sekitar 3 juta ton pada 2026, masih terdapat ruang kapasitas pengolahan sekitar 1 juta ton.
“Jadi masih ada ruang 25 persen lagi untuk bisa di-improve. Masih kita bisa menggiling 1 juta ton lagi,” kata Dyan.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi menilai peningkatan produksi perlu dibarengi dengan peremajaan tanaman. Berdasarkan data 2024, sekitar 86 persen tebu rakyat dinilai membutuhkan bongkar ratoon karena produktivitas dan rendemen tanaman cenderung menurun setelah melewati siklus sekitar empat tahun.
Selain peremajaan, penataan varietas tebu juga menjadi perhatian. Komposisi varietas yang memiliki masa panen berbeda dinilai belum ideal untuk mendukung kebutuhan musim giling sepanjang tahun.
Meski demikian, capaian swasembada gula konsumsi belum berarti Indonesia sepenuhnya terbebas dari impor untuk kebutuhan industri. Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo Putranto mengatakan masih terdapat sekitar 11 pabrik gula rafinasi yang menggunakan bahan baku impor.
Karena itu, peningkatan produksi gula dalam negeri perlu diikuti roadmap untuk mengintegrasikan pasokan domestik dengan kebutuhan industri rafinasi yang telah beroperasi.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

