National

Kepuasan Layanan Haji 2026 Capai 83,28, Qodari: Perbaikan Pemerintah Mulai Dirasakan Jemaah

Tingkat kepuasan jemaah terhadap layanan haji 2026 meningkat dan masuk kategori sangat memuaskan. Berdasarkan Survei Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kepuasan jemaah secara keseluruhan mencapai 83,28.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan, hasil Survei Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi gambaran objektif mengenai kualitas pelayanan haji tahun ini.

“Lompatan ini tentu tidak boleh membuat terlena, karena masih ada berbagai langkah transformasi yang perlu dilanjutkan. Hasil survei menunjukkan bahwa berbagai perbaikan dalam penyelenggaraan ibadah haji mulai dirasakan manfaatnya oleh para jemaah,” kata Qodari dalam keterangannya, Senin (10/8).

Dalam pengukuran 2026, BPS menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh. Jika sebelumnya Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) lebih banyak melihat pengalaman jemaah selama berada di Arab Saudi, IKLHI tahun ini menilai seluruh rangkaian layanan, mulai dari persiapan di dalam negeri hingga kepulangan ke Tanah Air.

Survei tersebut melibatkan 14.400 responden. Hasilnya, tingkat kepuasan jemaah secara keseluruhan mencapai 83,28 dan masuk kategori sangat memuaskan.

Sementara itu, jika menggunakan metodologi lama, IKJHI 2026 tercatat 91,45 atau meningkat 2,99 poin dibandingkan 2025 yang berada di angka 88,46.

Sejumlah tahapan layanan juga mencatat tingkat kepuasan tinggi. Kepuasan terhadap layanan di dalam negeri mencapai 83,85, sedangkan layanan di luar negeri berada di angka 82,71. Pelayanan di bandara menjadi tahapan dengan tingkat kepuasan tertinggi, yakni 84,76.

Qodari mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, petugas haji, pemerintah Arab Saudi, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Meski demikian, pemerintah tidak menjadikan hasil survei tersebut sebagai alasan untuk berhenti melakukan pembenahan. Evaluasi akan terus dilakukan, terutama terhadap layanan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina serta kesiapan kesehatan jemaah sebelum keberangkatan.

“Ibadah haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci. Di baliknya ada tanggung jawab besar untuk memastikan setiap jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, sehat, dan khusyuk,” ujarnya.

Qodari menambahkan, hasil survei tersebut menjadi pijakan penting bagi pemerintah untuk melanjutkan transformasi penyelenggaraan haji. Apalagi, 2026 menjadi momentum penting sebagai penyelenggaraan haji pertama oleh Kementerian Haji dan Umrah.

“Setiap angka adalah masukan dari jemaah, dan setiap masukan adalah dasar untuk menghadirkan pelayanan haji yang semakin baik,” kata Qodari.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...