Para Duta Besar dan perwakilan negara-negara MIKTA, yang terdiri dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia, mengunjungi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Indonesia di Sentul. Kunjungan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada personel penjaga perdamaian Indonesia yang gugur saat bertugas dalam United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL pada Maret 2026.
Sebelumnya, para Menteri Luar Negeri MIKTA telah mengecam keras insiden tersebut dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia. Mereka menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian dan pekerja kemanusiaan merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dan bertentangan dengan hukum internasional.
Dalam kunjungan yang digelar bersama Tentara Nasional Indonesia atau TNI, perwakilan MIKTA memberikan penghormatan kepada para penjaga perdamaian yang gugur sekaligus meninjau pelatihan prapenugasan bagi personel Indonesia.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menekankan pentingnya peran penjaga perdamaian dan pekerja kemanusiaan dalam melindungi warga sipil serta menjaga stabilitas. Menurutnya, keberanian dan pengorbanan para personel tersebut semakin penting di tengah situasi keamanan global yang semakin kompleks.
Duta Besar sekaligus Sekretaris Jenderal dan Penjabat Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Denny Abdi, menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian merupakan hal yang tidak dapat dikompromikan.
Ia menilai serangan terhadap pasukan tersebut juga merupakan serangan terhadap prinsip hukum kemanusiaan internasional. Denny menambahkan, kerja sama nyata antaranggota MIKTA diperlukan untuk menerjemahkan komitmen politik menjadi langkah operasional sekaligus membantu memulihkan kepercayaan terhadap institusi multilateral.
MIKTA merupakan kelompok lintas kawasan yang beranggotakan negara-negara kekuatan menengah yang aktif dan memiliki pengaruh dalam isu global. Sebagai Ketua MIKTA, Australia bekerja sama dengan negara-negara anggota lainnya untuk memperkuat prinsip kemanusiaan internasional dan sistem kemanusiaan global.
Kunjungan ke pusat pemeliharaan perdamaian Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkuat solidaritas antaranggota sekaligus menegaskan dukungan terhadap keselamatan personel yang menjalankan misi perdamaian dunia.
Alexander Jason – Redaksi

